Dukungan Hastag

Dis'way
Dis'way
0 Komentar

Karena itu pemerintah
Singapura sangat jengkel. Tiga hari itu. Ketika melihat terjadinya kepanikan di
masyarakat. Sampai semua bahan di supermarket ludes tidak sampai setengah hari.
Yakni saat pemerintah menaikkan bendera oranye –tanda bahaya corona sudah
lebih serius.

Padahal maksud pemerintah,
bendera oranye itu untuk meningkatkan kewaspadaan. Agar bisa menambah
kedisiplinan hidup bersih, memperbanyak cuci tangan, dan seterusnya.

Bukan sebagai komando untuk
menyerbu supermarket.

Pun kalau kelak pemerintah
Indonesia menaikkan bendera oranye. Jangan panik. Jangan serbu supermarket.
Jangan ulangi yang terjadi di Singapura.

Mudah-mudahan kita tidak
punya bendera oranye.

Ingat: ini lebih mirip flu
daripada Jiwasraya.

Baca Juga:e-Paper Jabar Ekspres Edisi 11 Februari 2020Pedagang Gugat Perda KTR Kota Bogor

Yang jelas kita bukan Wuhan.
Saya sendiri menyukai Kota Wuhan. Apalagi di ‘simpang tiga’ pertemuan antara
sungai Jialing dengan sungai Chang Jiang (Yangtze).

Ketika hubungan diplomatik
antara Indonesia dan Tiongkok masih putus saya sudah mendatangkan grup akrobat
dari Wuhan. Sampai panitianya diinterogasi oleh Kopkamtib (Komando Operasi
Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) di Surabaya.

Tapi kali ini saya ikut marah
dengan apa yang terjadi di Wuhan. Seraya ikut bangga pada dokter Li Wenliang.
Yang meninggal dunia Jumat lalu.

Kalau saja suara dokter itu
didengar tidak akan sampai menjadi fatal seperti ini. Khususnya di Wuhan.

Dokter Li memang tergabung
dalam anggota grup WeChat. Anggota grup WeChat itu terbatas para dokter di
rumah sakit Palang Merah Wuhan.

Tanggal 30 Desember 2019
lalu dokter Li memposting informasi di grup itu. Tujuannya: agar rekan-rekan
sesama dokter menaruh perhatian akan adanya virus yang sangat bahaya itu.

Rupanya ada yang meng-capture postingan
dokter Li. Lalu hasil capture itu
beredar di online.
Menyebar luas. Heboh.

Baca Juga:XL Axiata Raih Pertumbuhan Pendapatan diatas Rata-rata IndustriEmil-Prabowo Belum Bicara Pilres 2024

Keesokan harinya kepala
rumah sakit memanggilnya. Dokter Li dianggap menjadi sumber keresahan umum.

Dua hari kemudian dokter Li
dipanggil polisi. Diinterogasi. Lalu diberi surat peringatan.

Dokter Li sendiri sebenarnya
sudah mencabut postingannya itu. Tapi capture-nya
sudah beredar luas. Dipanggil polisi adalah menakutkan.

Dokter-dokter lain pun
menjadi ragu-ragu untuk bekerja. Apalagi mengambil tindakan. Sebagian marah

0 Komentar