Selain menyerap tenaga kerja, kata dia, hadirnya para investor tersebut juga mendorong peningkatan bagi para pelaku UMKM untuk memasarkan produk-produknya seperti olahan makanan, kerajinan, konveksi, jasa dan lainnya yang mencapai 59 pelaku UMKM. “Artinya produk hasil UMKM warga di sini, bisa dijual di tempat wisata atau masuk di hotel-hotel. Termasuk dampak lainnya, para investor juga selalu support terhadap kegiatan seni budaya atau kearifan lokal yang digelar setiap tahunnya. Misalkan hajat lembur dan lain-lain,” terangnya.
Bahkan, kata dia, hadirnya para investor juga memberikan dampak pada pendapatan asli daerah (PAD) untuk desa. Sebab, setiap pajak yang ditarik oleh Pemkab Bandung Barat pada akhirnya akan kembali ke desa dari bagi hasil pajak. Itu yang sudah dirasakan selama ini untuk menunjang pembangunan infrastruktur serta pemberdayaan masyarakat. “Pajak-pajak yang ditarik oleh pemerintah daerah, nanti akan kembali lagi ke desa, kita manfaatkan untuk bangun jalan dan lainnya,” katanya.
Selain mendapatkan bagi hasil pajak, tahun ini pihaknya juga bakal mengoptimalkan penggunaan Dana Desa yang totalnya kurang lebih mencapai angka Rp 3 miliar, lebih besar dari tahun sebelumnua yang hanya Rp 1,8 miliar. “Dana desa tahun ini lebih besar mencapai Rp 3 miliar. Dana tersebut, sebanyak 30 pesen untuk pembangunan fisik atau infrastruktur, 30 persen untuk peningkatan pemberdayaan ekonomi masyarakat serta 40 persen untuk biaya operasional desa. Kami harus merealisasikan dana tersebut sesuai hasil musdes dan APBDes yang sudah disusun,” pungkasnya. (drx)
