Rumah Wan Ki Au sangat kontras dengan rumah para tetangga mereka. Di sebelahnya, ada beberapa rumah bertingkat. Di sekelilingnya juga. Rumahnya terlihat cukup layak untuk ditinggali. Berhiaskan cat warna-warni. ”Sejak Jepang belum kelihatan batang hidungnya di Tangerang, keluarga babah saya sudah di sini,” ujarnya.
Eke panggilan akrabnya—sehari-hari hanya sebagai pekerja serabutan. Pendapatannya tak menentu. Kalau ada yang meminta bekerja, asap dapurnya pun bisa ngebul. Kalau tidak, makan seadanya. Ayah satu anak ini merupakan keturunan ketiga. Dia mewarisi rumah tua dari peninggalan kakeknya. Kalau dilhat, mungkin lebih tua dari perkiraan.
Di rumahnya, tak ada hiasan atau ornamen khas imlek. Seperti angpau atau lampion yang tergantung taupun lampu kelap-kelip sebagai penghias ruangan. Sangat sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Untuk perayaan setahun sekali. ”Sudah biasa kayak gini,” ujarnya.
Baca Juga:Rencanakan Tahura Jadi BLUDDikunjungi Penjaga Makam Nabi
Eke memaknai Imlek dengan cara lebih. Bukan sekadar bersuka cita. Berkumpul bersama keluarga merupakan suatu yang patut disyukuri. Meski tidak ada kue dan makanan yang berlimpah. Kehangatan keluarga sudah cukup membuatnya merayakan imlek dengan khusyuk.
”Saya tinggal di sini sejak kecil. Seingat saya, dulu kakek saya juga tinggal di sini. Kemudian turun ke ayah saya, dan akhirnya sekarang turun ke saya. Usianya saya lupa, tapi setahu saya, ratusan tahun. Saya saja turunan ke-tiga,” kata Eke sambil mengingat-ingat kejadian puluhan tahun silam.
Ya, Etnis Tionghoa di Tangerang merupakan keturunan imigran cina hokkian. Menurut cerita, mereka tiba di Tangerang sekira tahun 1407 sebelum Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dibentuk. Sedangkan penaman cina benteng merujuk sebagai penamaan Tangerang yang sebelumnya bernama benteng.
Sangat ramah. Eke mempersilakan kami duduk. Bahkan beberapa kali memperbolehkan kami masuk melihat lebih ke dalam ke tiap sudut rumahnya. Hampir tak ada perabotan. Hanya tembok dan beberapa hiasan dinding kuno. Kontras dengan pandangan awam yang memandang orang Tionghoa sebagai keluarga yang tajir.
Di tahun baru, harapan Eke sangat sederhana. Sesedarhana rumahnya. Tetapi memiliki makna luas. Dai berharap bisa hidup lebih baik. ”Ya dapet kerjaan, dan lebih baik dari tahun kemarin. Semoga saja dikabulkan dewa,” ujarnya penuh harap.
