Eka Tjipta (2)

Eka kembali akan mengan­dalkan kepercayaan. Sebagai modal utamanya. Dia da­tangi perusahaan dagang negara. Peninggalan Belanda. Seperti Geowehry. Dia minta barang. Bayar belakangan. Minta waktu dua minggu. Seperti pembayaran yang di­janjikan tentara.

Ternyata dua minggu tidak ada pembayaran. Satu bulan tidak ada. Satu bulan setengah juga tidak. Eka datang ke Geo­wehry. Minta maaf. Mence­ritakan apa adanya. Mem­bawa semua berkas dan tagi­han. Dia ceritakan apa adanya. Tidak ada yang disembunyi­kan.

Setelah lewat dua bulan pembayaran cair. Sekaligus. Banyak sekali. Eka menjadi banyak uang lagi. Utangnya pun lunas.

Eka menjadi akrab dengan tentara. Tentara juga begitu. Merasa Eka orang yang ber­jasa. Kesempatan pun ter­buka. Eka boleh memanfaat­kan kapal tentara. Yang pulang ke Makassar dalam keadaan kosong. Setelah mengirim tentara ke Manado.

Eka pun memuatinya dengan kopra. Yang melimpah di Ma­nado. Dengan harga murah. Dia jual di Makassar. Dengan harga tinggi.

Jadilah Eka pedagang kopra. Dia sering pergi ke Manado, Palu, Toli-toli, Maluku. Pusat-pusat kopra ia kuasai.

Dia pun sudah berani carter kapal. Untuk kirim kopra dari Manado ke Surabaya dan Jakarta. Jaringan dagangnya kian luas.

Suatu saat dia sudah men­gumpulkan 3 ribu ton kopra di Manado. Dia carter kapal besar dari Jakarta. Untuk uku­ran saat itu.

Ketika kapal tiba pecahlah pemberontakan Permesta. Terjadi perang. Eka meny­elamatkan diri. Kopra 3 ribu ton dia tinggal. Kapal carteran­nya kembali ke Surabaya ha­nya membawa dirinya.

Eka bangkrut untuk keempat kalinya.

Dia tidak mau lagi tinggal di Makassar. Dia ingin pindah Surabaya. Di daerah yang le­bih aman. Yang memungkin­kan bisnis berkembang.

Di Surabaya Eka ditampung di kamar temannya. Ukuran 2 x 3 meter. Dia hanya mem­bawa modal kepercayaan. Dan nama baik.

Dia pun menghadap Pang­dam Brawijaya, Mayjen Ba­suki Rahmat. Diizinkan pula mengisi kapal tentara dengan barang dagangannya. Kapal itu berangkat ke Sulawesi membawa bahan makanan. Balik ke Surabaya kosong. Hasilnya dibagi dua: tentara mendapat 25 persennya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan