JAKARTA – Ada empat proyektil ditemukan di Gedung DPR dalam kasus peluru nyasar. Dua peluru menyasar ke kantor anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Gerindra Wenny Warouw dan anggota Komisi VII DPR RI Bambang Heri Purnama, Senin (15/10). Sementara dua lagi ditemui di ruangan Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Totok Daryanto dan Fraksi Partai Demokrat Vivi Sumantri Jayabaya, Rabu (17/10).
Kepala Bidang Balistik, Metarlugi Forensik Puslabfor Polri Komisaris Besar Polisi Ulung memastikan, bekas tembakan tersebut masih berkaitan dengan kejadian di ruangan Komisi III DPR Fraksi Partai Gerindra Wenny Warouw dan anggota Komisi VII DPR RI Bambang Heri Purnama, Senin (15/10).
Peluru itu diduga berasal dari senjata api jenis Glock 17 yang digunakan IAW dan RMY, yang sudah ditetapkan menjadi tersangka. ”Penembakannya yang kemarin-kemarin juga,” kata Ulung saat dihubungi wartawan, kemarin (17/10).
Baca Juga:Persib Terancam dapat Sanksi TambahanPrancis Tutup Peluang Jerman
Direktur Reserse Kriminal Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Nico Afinta Karo-Karo mengatakan, pada saat kejadian di senjata api yang digunakan IAW diubah jadi auto switch ada empat peluru.
Dua peluru ditemukan di ruang Fraksi Demokrat dan Golkar, dan dua peluru lagi yang mental itu diduga adalah peluru yang kini ditemukan di ruang Fraksi PAN dan Fraksi Demokrat. ”Baru ketahuan sekarang. Iya (ada empat peluru). Ini baru ketemu kan,” ujarnya.
Senada disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. ”Itu merupakan sisa dari empat peluru yang ditembakkan kemarin. Jadi dari hasil olah TKP kemarin, baru ditemukan dua peluru dan hari ini ditemukan lagi dua peluru,” ujar Dedi.
Meski diyakini sebagai sisa insiden Senin (15/10) kemarin, Polri tetap membawa dua butir peluru yang baru ditemukan untuk diuji balistik di laboratorium forensik.
”Jadi langkah Polri tetap selesai melaksanakan olah TKP kemudian peluru yang diambil nanti dibawa ke labfor, jadi supaya identik antara senjata yang digunakan dengan peluru yang ditemukan di TKP,” terangnya.
Dedi meminta semua pihak tenang dan mempercayakan kepolisian untuk menangani kasus tersebut. ”Itu sisa kemarin. Jadi tolong tetap tenang. Ini artinya Polda Metro mampu mengendalikan keamanan di Jakarta,” jelasnya.
