Bunga Utang Tembus Rp 275 Triliun

Bunga Utang Tembus Rp 275 Triliun
ISTIMEWA
KEPERCAYAN INVESTOR: Indonesia resmi sebagai Centre of Excellence (CoE) The Organization Of Islamic Cooperation (OIC) atau Pusat Riset Vaksin Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Senin 14 Mei 2018 di Jakarta. Peresmian langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek.
0 Komentar

Hubungan yang panas antara Turki dan AS juga masih memengaruhi nilai tukar. Tidak hanya rupiah, tapi juga mata uang negara berkembang lainnya. Pada awal pekan ini, tekanan dari sentimen Turki sempat mereda karena ada perjanjian bilateral swap antara Turki dan Qatar senilai USD 51 juta. Namun, Qatar masih dikucilkan negara-negara Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Hubungan Turki dan AS juga masih memanas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sejumlah sentimen tersebut dapat memengaruhi nilai tukar rupiah dan dana asing di portofolio hingga akhir tahun. Pada Selasa (21/8) rupiah berada di level 14.568 per USD. Sejak awal tahun rupiah melemah 7,58 persen. Dana asing yang keluar dari pasar modal Rp 46,10 triliun. Itu belum termasuk dana asing yang keluar dari pasar surat berharga negara (SBN).

”Kami terus memperhatikan faktor-faktor global yang dapat memengaruhi rupiah ke depan, terutama dari perbaikan ekonomi AS dan hubungannya dengan negara lain seperti Turki dan Tiongkok. Tetapi, upaya dari Bank Indonesia (BI) juga perlu dibarengi dengan peningkatan ekspor dan pengurangan defisit, tidak bisa hanya dari sisi moneter,” kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

Baca Juga:Ancaman Rawan Pangan di Musim KemarauWalikota Banjar Siap Benahi Jalan

Pada Juli 2018 defisit neraca perdagangan tercatat USD 2,03 miliar atau yang tertinggi sejak Juli 2013. Sementara itu, defisit transaksi berjalan melebar dari USD 5,5 miliar pada kuartal I 2018 menjadi USD 8 miliar pada kuartal selanjutnya. Angka itu setara dengan 3 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Dody mengaku, peningkatan ekspor akan dapat menekan defisit. Dengan defisit yang rendah, pasar portofolio akan lebih stabil, suku bunga dapat disesuaikan, dan nilai tukar secara tidak langsung akan lebih stabil.

Namun, dengan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5,3 persen hingga akhir tahun, defisit transaksi berjalan masih akan terjadi. Hingga akhir tahun diperkirakan defisitnya mencapai USD 25 miliar. Sejauh ini, BI sudah berupaya menstabilkan nilai tukar dan menenangkan pasar dengan kenaikan suku bunga BI 7 days reverse repo rate (BI-7DRRR) 1,25 persen tahun ini. Dody tidak mengungkapkan apakah ruang kenaikan suku bunga tahun ini masih terbuka. Namun, sementara ini, dia yakin imbal hasil SBN bertenor 10 tahun dan yield US treasury masih memiliki spread yang menarik bagi investor. Saat ini yield SBN 10 tahun sekitar 7,99 persen, sedangkan yield US treasury 2,85 persen.

0 Komentar