Fatwa Larang Politik di Masjid?

fahri
Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI
0 Komentar

JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengaku tidak setuju jika nantinya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa larangan politik di masjid.

Menurut Fahri tidak ada yang salah jika seseorang berpolitik di Masjid. Dia menekankan yang harus di larang justru melakukan kegiatan yang menyerang orang lain dan bukan edukasi politik yang dilakukan di masjid.

”Politik itu mulia jangan dijahat-jahatin. Politik sebagai ilmu, pengetahuan, itu harus tersosialisasikan, apapun mediumnya,” tegas Fahri di Kantor Pusat DPP PAN, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (9/5).

Baca Juga:Ayu, Hanya Kamu!50 Kabupaten Sambut Smart City

Senada dikatakan Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Menurut dia, siapa saja yang melarang politik di masjid adalah sok tahu tentang agama Islam.

”Satu, kalau dia muslim, dia tidak tahu tentang agama (Islam). Kedua, kalau bukan muslim dia sok tahu tentang agama Islam,” kata Gatot, seusai mengisi Dialog Kebangsaan bertema Menjaga Perdamaian dan Kesatuan Bangsa Indonesia, di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, Islam untuk umat semesta alam. Semua ilmu ada di sana, dari mulai kedokteran, perbintangan, maupun kerajaan. ”Penemu ilmu tentang perbintangan lebih duluan mana sama Alquran. Ilmu tentang pemerintahan ada di situ,” jelasnya.

Ilmu tentang kerajaan ada di Surat An-Naml atau Surat Semut yang mengisahkan tentang Nabi Sulaiman. Di dalam isinya, mencakup dengan politiknya. ”Nah kalau politik dilarang, padahal isi Alquran itu juga tentang manusia itu juga politik bagaimana ceritanya?” ucapnya.

Dia mencontohkan semisal di masjid kampus UGM. Ketika nanti di bulan Ramadan, seorang Imam akan membacakan Alquran sampai selesai 30 juz. Termasuk juga di dalamnya Surat An-Naml yang kemudian diamini oleh jemaahnya. ”Ditangkaplah dia (Imamnya), jamaahnya sebagai saksi kenapa kamu amini,” ucapnya.

Seorang muslim itu, lanjutnya, dalam melakukan ibadah juga meniru rasulnya Nabi Muhammad Saw. ”Nah kemudian Nabi Muhammad itu bicara tentang pemerintahan atau tentang politik di rumah Allah di masjid Nabawi, nah kalau dilarang itu bagaimana,” katanya.

Menurutnya, harusnya yang dilarang itu bukan politik. Namun bicara tentang adu domba atau mengajak kepada yang tidak benar. ”Kalau politik, politik itu tujuannya mulia lho. Hanya disalahartikan saja. Politik itu kan kalau tidak salah siasat dan kebijakan,” pungkasnya.

0 Komentar