Pernah Dibuntuti Dua Pria yang Bawa Parang

Pernah Dibuntuti Dua Pria yang Bawa Parang
HERMINA/KALTIM POST
SEMPATKAN WAKTU: Adi Nurwansyah (tengah), salah seorang pendiri RPS, bersama Suharyono sebagai koordinator lapangan.
0 Komentar

Tugas para relawan RPS adalah mengantarkan para klien –sebutan mereka untuk yang meminta bantuan pendampingan– selamat sampai di tempat tujuan. Terdengar sederhana. Tapi, karena ada risiko berhadapan dengan kejahatan, kehati-hatian tentu harus dijaga benar.

Protap (prosedur tetap) dalam tiap pendampingan, misalnya, harus melibatkan minimal empat relawan. Mereka terdiri atas korlap (koordinator lapangan) di depan, dua di samping klien, dan satu lagi di belakangnya. ’’Kalau kurang anggota, kami beri opsi menunggu sampai ada empat atau klien batalkan,’’ urai Adi.

Suharyono, salah seorang korlap, menuturkan, korlaplah yang menentukaan formasi pendampingan. Siapa yang di samping dan di belakang klien. ’’Selain saya, Pamungkas dan Nathael Sultan juga korlap,’’ terang pria yang bekerja di sebuah hotel itu.

Baca Juga:Rotasi Kepala Dinas Digelar dalam Waktu DekatKlaim Salurkan Buku Rp 30 M

Sebisa-bisanya para relawan bekerja dalam senyap agar tidak terbaca pelaku tindak kriminal. Mereka rata-rata juga punya bekal kemampuan bela diri.

Sebab, taruhannya bukan hanya keselamatan para relawan. Tapi juga keluarga mereka. Adi mengisahkan, pernah dalam suatu pendampingan relawan RPS diikuti dua pria yang membawa parang panjang.

’’Kami bertujuh. Semua sadar sedang diikuti dari Jembatan Mahkota II sampai Simpang Pasir,’’ cerita Adi.

Untung, sampai klien selesai diantar, tak ada kejadian membahayakan. Padahal, seluruh anggota RPS kala itu sudah bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk.

Hampir tiap malam selalu ada klien yang mengontak untuk meminta bantuan. Umumnya para perempuan. Tapi, ada pula yang laki-laki.

Ketika ada kasus kriminalitas yang menghebohkan, permintaan pendampingan bahkan semakin meningkat. ’’Kami kadang sampai kewalahan,’’ kata Adi.

Dana operasi RPS berasal dari swadaya anggota. Sekali pendampingan, anggota RPS akan urunan. Dana yang terkumpul digunakan untuk membiayai jika ada ban bocor, bensin habis, atau motor pendamping yang mogok.

Baca Juga:Empat Parpol Jalani Verifikasi FaktualSimda di Buat untuk Transparansi

Mereka juga sangat berhati-hati dalam menerima bantuan. Donasi berupa uang akan ditolak. Lebih memilih peralatan yang dibutuhkan. Misalnya, handy talky yang beberapa waktu lalu disumbangkan seorang dermawan.

’’Kami tidak mau ada kontrak, perjanjian, atau sumbangan dengan tujuan tertentu. Apalagi mau memasuki tahun politik (tahun depan),’’ tegas Adi.

0 Komentar