Cari lewat Wangsit, Bangun dengan Dana Desa

Cari lewat Wangsit, Bangun dengan Dana Desa
TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS
SUMBER AIR: Kastaman (kanan) menunjukkan tebing tempat penemuan mata air di Gunung Gentong, kawasan Bromo Tengger Semeru, beberapa waktu lalu.
0 Komentar

Dia segera mencari Bukit Gentong. Sedikit sekali yang tahu keberadaan bukit itu. Setelah mencari sepanjang tepi lereng, Kastaman tertumbuk pada gemericik air yang jatuh di sebuah batu. Tetes-tetesnya dari atas tebing. Kastaman segera memanjat tebing tersebut. Tanpa tali, hanya berpegangan pada rumput.

Begitu sampai di atas, air ternyata berasal dari bongkahan batu padas berwarna merah. Mengalir dari celah-celahnya. Kastaman mengucap syukur dalam hati. Dia lantas pulang, lalu mencari pipa besi ukuran sedang. Berangkat dan memanjat lagi ke puncak Gentong. ”Saya nggak mau beri tahu warga dulu, biar nanti kalau sudah benar-benar yakin,” katanya.

Kastaman yakin air bisa mengalir lebih deras. Sendirian, dia menggali dan melubangi batu padas dengan pipa tadi. Lantas, dia tusukkan ke lubang tempat air keluar. Air tersebut mengalir jernih. Esoknya, baru dia beritakan kepada Kermat, warga Ngadas, dan Jetak.

Baca Juga:Mousse Perancis Hadir di GH UniversalPijat Sehat Bandung Juara Berdayakan Disabilitas

Tapi, sumber air baru itu terlalu jauh dari dua desa. Harus ada jaringan pipa. Pembangunan pun dimulai. Para pemuda yang ahli memanjat tebing dikerahkan untuk membuat saluran di atas, lalu disambung ke bawah. Membuat klip pengaman di sepanjang dinding tebing, terus ke bawah. ”Tapi, sebelum itu, masih ruwet lagi, izin dulu ke taman nasional segala macam,” katanya.

Kermat lalu menginisiasi musyawarah rencana pembangunan. Sebagian besar warga tidak berpikir lain kecuali air. Akhirnya, dana desa tahun 2016 mereka gunakan untuk membangun infrastruktur penyalur air. Ada jaringan pipa dan tandon besar di setiap kampung. ”Dulu pertama nyambung cuma secuil jari, sekarang sudah 1 dim (seukuran pipa, Red),” kata Kermat.

Dua kepala desa itu berterima kasih, satu kepada para leluhur yang memberikan petunjuk, dua kepada pemerintah yang sudah memberikan bantuan dana. Sekarang kebutuhan air warga sudah terpenuhi.

Hanya, keduanya belum memutuskan untuk memberi nama pada mata air penyelamat mereka. Kastaman lebih suka menyebutnya ”Sumber Gentong” lantaran petunjuk Eyang Kuncung dan bentuk bukit yang menyerupai cawan raksasa. Sementara itu, Kermat mengusulkan untuk diberi nama ”Tirta Langgeng”. (*/c10/oki)

Laman:

1 2 3
0 Komentar