“Pernah suatu ketika, ada orang setengah mabuk datang ke rumah kami, menanyakan anu dan anu, dia (pemabuk) menyangka kalau rumah ini masih jadi tempat karaoke, kemudian saya jelaskan, bahwa sekarang rumah ini sudah ditinggali oleh kami,” ucap lulusan pesantren Muallimin Bentar Garut itu.
Tak berselang lama, dari kejadian itu, sempat terjadi perkelahian di depan rumahnya. Situasi itu, disebut Ai sangat mencekam. Serentetan kejadian itulah, Ai dan Ubun tergerak untuk merubah lingkungan mereka melalui kegiatan pengajian.
“Saya khawatir anak saya juga terjerumus, sebelumnya saya juga tidak ingin tinggal di sini, karena daerahnya seperti ini, air juga sulit didapat. Tapi mungkin Allah mengantarkan kami ke sini dengan suatu tujuan, sebagai langkah awal kami menggelar yasinan, sebagai bentuk syukur kepindahan kami ke sini,” ucap Ai.
Baca Juga:Fungsi Keluarga Harus DiprioritaskanFasilitasi Perekaman e-KTP
Saat pertama kali memulai kelas, Ai dan Ubun terperangah. Betapa tidak, anak-anak tersebut tak mengenal bacaan huruf hijaiyah dan Al Quran. Mereka justru menjadikan itu sebagai lelucon.
“Malahan diketawain, saat saya menyebut Al Isro, anak-anak malah menjadikan itu bahan tertawaan, tapi saya maklumi, mungkin Al Quran masih asing bagi mereka anak-anak masih polos seperti kertas, inilah saat yang tepat untuk memberikan pendidikan kepada mereka,” kata Ubun.
Awalnya, kelas yang digelar di MDT Al Fatih hanya diikuti oleh belasan anak-anak. Saat itu, kondisi murid sulit diatur, bahasa “kebun binatang” pun berseliweran di kelas pertama itu.
Madrasah terdekat pun, hanya bisa bertahan mengajari anak-anak tersebut tak lebih dari dua minggu.
Kendati begitu, Ai dan Ubun tak menyerah dalam membimbing para muridnya.”Kalau diperingati dengan kata-kata saja sulit, saat disuruh push up, semuanya malah semangat ketika menerima hukuman itu,” ucapnya.
Akhirnya, Ubun menemukan cara yang lebih efektif dengan memperlihatkan kain kafan kepada anak-anak tersebut,. “Kebetulan lokasi MDT ini bersebelahan dengan tempat pemakaman, sikap mereka perlahan melunak dan lebih mudah diatur,” ucap Ubun yang hanya lulusan SMA di Leles Garut itu.
Saat ini jumlah murid di MDT Al Fatih, sudah mencapai 100 murid dengan jumlah pengajar lima orang. Termasuk Nadia (17), anak tertua pasangan tersebut dan seorang relawan. Kini anak-anak pun menjadi lebih mudah diarahkan, bahkan ada salah satu murid yang menjadi juara ketiga lomba dai tingkat kabupaten.
