Alam Endah Dijadikan Sentra Bawang

Alam Endah Dijadikan Sentra Bawang
MONITORING LANGSUNG: Sejumlah Anggota DPR RI Komisi IV melakukan Inspeksi ke pertanian Bawang Putih di Kawasan Ciwidey.
0 Komentar

Kondisi tersebut, sudah dip­elajarinya sejak tiga tahun silam. Sehingga Pemerintah jangan kalah siasat dengan kelompok pengambil untung sesaat.

Selain itu, publik pun harus membuka mengenai kondisi yang mengkhawatirkan ka­rena dengan volume impor yang tinggi harga bawang putih tetap tinggi. Padahal harga asli dari Cinanya hanya Rp16.000 per kg.

“Bukan berarti para importir dan pengusaha tidak boleh mengeruk untung, tapi harus wajar, karena naiknya jangan terlalu tinggi maksimal Rp15.000. Kita seolah-olah membiarkan­nya sehingga tata kelola harus diperbaiki,” katanya.

Baca Juga:Wacana KBT Terus Bergulir ke ParlemenDPU Kota Bandung Jernihkan Sungai

Dia juga menjelaskan, apa­bila ditemukan adanya pela­ku spekulan terindikasi, sat­gas pangan harus segera menangkapnya. Pada APBD Perubahan pihaknya akan mengevaluasi kebijakan ter­masuk penganggaran untuk penguatan swasembada ba­wang putih dengan meman­faatkan anggaran dari pos yang tidak terserap dengan baik.

“Pemerintah harus konsisten dalam menjalankan UU Pangan yang mewajibkan pada Okto­ber 2015 berdirinya Badan Pangan Nasional. Saat ini, belum jelas arahnya wacana lembaga pangan,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi IV dari Fraksi PKB, Cucun A Syamsurijal dari dae­rah pemilihan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat mengatakan, Fenomena meroketnya bawang putih harus menjadi pelajaran semua pihak terutama Kemen­terian Pertanian dan Kemen­terian Perdagangan.

“Apabila Kabupaten Bandung dijadikan sentra produksi, saya sebagai wakil rakyat akan bicara di DPR dan siap bawa anggaran supaya benar-benar konkrit. Mana yang perlu dis­upport harus ada angarannya karena prioritas. Ini bukan perkara keadilan tapi manfaat yang diberikan,” katanya.

“Kondisi ini terjadi di sejum­lah komoditas. Namun, jangan sampai tertawa saat menanam, tapi bersedih saat memanen, sehingga kita harus mem­buat mekanisme supaya pe­tani tertawa ketika menanam dan tersenyum ketika mema­nen,” imbuhnya. (yul/yan)

0 Komentar