Realisasikan 443 Unit Kampung KB

Realisasikan 443 Unit Kampung KB
DOKUMEN BKKBN JAWA BARAT
CUKUP DUA: Kepala BKKBN Jawa Barat Sugilar (kanan) berbincang dengan ibu-ibu di tengah kebun jagung di daerah Cidaun, Kabupaten Cianjur saat sosialisasi Kampung Keluarga Berencana (KB) belum lama ini.
0 Komentar

jabarekspres.com, BANDUNG – Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kantor Perwakilan Jawa Barat (Jabar) terus meningkatkan jumlah Kampung KB di 27 kabupaten dan kota di Jabar. Hingga kini, BKKBN Jabar telah merealisasikan 443 Kampung KB yang tersebar di 240 kecamatan.

Kepala BKKBN Jabar Sugilar mengatakan, Kampung KB tidak hanya mengurusi masalah pemasangan KB. Lebih dari itu, Kampung KB menjadi wadah untuk membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Seperti menangani masalah kesehatan hingga rumah layak huni.

”Kami menargetkan satu desa satu Kampung KB. Namun, tidak bisa langsung serentak dibentuknya. Karena pembentukan Kampung KB itu melalui beberapa tahapan. Harus sosialisasi dulu, penyuluhan kepada tokoh masyakat dan stakeholder,” ujar Gilar –sapaan Sugilar- saat Media Gathering di Hotel Karang Setra, Kota Bandung, kemarin (25/4).

Baca Juga:Waspadai Penggorengan Isu SARABandung Kondusif Karena Hargai Toleransi

Gilar menambahkan, geografis dan kultur Jawa Barat menjadi kendala tersendiri dalam menyosialisasikan Kampung KB. Menurut dia, pola pengembangan Kampung KB di pedesaan berbeda dengan perkotaan, pegunungan atau kawasan pinggiran pantai.

”Saat ini yang terbanyak di Banjar. Hampir semua kelurahan atau desanya memiliki satu Kampung KB. Mereka sudah ideal,” ujarnya.

Menurut Gilar, idealnya setiap desa memiliki satu Kampung KB. Kesadaran masyarakat akan membantu pengembangan Kampung KB, sebab pemerintah hanya memfasilitasi kekurangannya saja.

Lebih lanjut dia mengatakan, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Jabar menurut data BKKBN Perwakilan Jabar, saat ini mencapai sembilan juta pasangan. Di mana sebanyak 70 persen sudah menjadi peserta KB.

Sementara itu, dari 70 persen tersebut, sebagian besar peserta masih menggunakan KB tidak permanen atau suntik dan pil. Padahal resiko gagal KB jauh lebih tinggi.

Dia mengatakan, rendahnya pemakaian KB permanen karena masih ada ketakutan di benak masyarakat. Menurut dia, masyarakat takut sakit jika harus memasang intrauterine device (IUD) di alat vitalnya.

”Kasus drop out KB kebanyakan dari KB pil. Kami akan terus upayakan agar ada kesadaran untuk memilih KB permanen, spiral sebab bisa tahan diatas 3 tahun,” ujar dia.

Baca Juga:Ajak Da’i Ciptakan Suasana Politik yang KondusifTiga Mahasiswa ITB Ciptakan Mesin Pendeteksi Hoax

Angka drop out KB menurutnya mencapai 10 hingga 15 persen. dia menganggapnya cukup besar. Sehingga BKKBN Jabar terus mendorong agar masyarakat khususnya PUS memilih KB permanen. (fik)

0 Komentar