Tunggu Kereta Cepat Jepang

Tunggu Kereta Cepat Jepang
BASAH KUYUP: Raja Salman bin Abdul Azis Al Saud terlihat didampingi Presiden Jokowi yang rela hujan-hujan saat tiba di istana Bogor, waktu lalu (1/3).
0 Komentar

Sementara untuk ­kerjasama dengan Arab Saudi, Rosan menyatakan bahwa dari kedua negara masih dalam tahap saling mengenal dan melakukan monitoring terhadap iklim bisnis masing-masing. ”Kami masih terus berkordinasi lewat Kamar Dagang dan Industri mereka (Arab Saudi, Red). Secara besaran investasi juga kalau dilihat Arab Saudi ada di peringkat 57, artinya mereka belum terbiasa dan belum mengenal lebih jauh tentang investasi di sini,” urai Rosan.

Kadin Indonesia selalu mengagendakan bisnis forum tiap kali ada negara yang berkunjung ke Indonesia. Tujuannya, adalah melakukan bisnis matching untuk segera mempertemukan para stakeholder dan pengusaha yang terkait dengan kerjasama.

”Prosedurnya biasanya seperti itu. Kami agendakan bisnis forum untuk bertemu kadin dari negara yang bersangkutan, lalu kami lakukan bisnis matching. Kemudian dibentuk tim monitoring yang terdiri dari perwakilan kedua negara, untuk kemudian mem-follow up MoU yang sudah disepakati,” papar Rosan.

Baca Juga:500 Rumah Terendam Banjir di PasehUmuh Ungkap Penyebab Kegagalan Persib Lolos ke Final

Menurut Rosan, faktor utama yang mempengaruhi cepat dan lambatnya realisasi investasi Negara asing dan Indonesia adalah tentang regulasi dan aturan. Seringkali regulasi pusat dan daerah yang akan dijadikan tempat investasi tidak match.

”Iya, biasanya mereka (pengusaha negara lain, Red) menyebut soal keharmonisan regulasi. Ketika BKPM sudah oke, tapi ternyata di daerah ada peraturan-peraturan yang berbeda, akhirnya proses menjadi lebih lama,” beber Rosan.

Senada dengan Rosan, Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai Jepang paling paham dengan iklim investasi di dalam negeri. Sehingga, dalam kunjungan kerja pemimpin negaranya, banyak kesepakatan yang langsung ditandatangani. Beda dengan Saudi. Hingga saat ini, belum ada masterplan soal kerja sama yang disepakati. Belum ada nominal investasi yang disebutkan. ”Semua baru akan. Saya belum melihat adanya kesepakatan soal ini,” ungkapnya.

Reza mengungkapkan, pemerintah harus hati-hati. Sebab, ekspektasi masyarakat sudah terlampau tinggi atas kedatangan rombongan Saudi ini. Sehingga, bila kerja sama jauh dari ekspektasi, tentu pemerintah yang akan jadi sasaran.

”Masyarakat sudah terpesona duluan. Dengan rombongan begitu besar, mikirnya pasti investasi juga dalam jumlah besar. apalagi, Saudi terkenal loyal. Meski hingga kini belum ada blueprint dari kerjasama yang dibicarakan,” tuturnya.

0 Komentar