Saya langsung request kepada Fouad untuk melihat salju Afrika secara langsung. ’’Pastilah eksotis. Sebab, selama ini salju identik dengan Eropa, sedangkan Afrika identik dengan Gurun Sahara.’’
Jamaah wisata pun setuju dan berseru gembira. Jadilah kami berbelok ke arah puncak pegunungan Atlas. Dan, ternyata, kami tak harus sampai ke puncak Gunung Atlas untuk menemukan salju. Kami cukup berada di Kota Ifrane, yang berketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut.
Dua minggu sebelumnya, menurut Kusnadi, mahasiswa Indonesia di Maroko yang menjadi asisten Fouad, perjalanan ke Kota Ifrane penuh dengan salju. Sebab, saat itu musim dingin sedang memuncak. Dia lalu menunjukkan video saat mengunjungi Ifrane. Benar-benar serasa di Eropa. Hujan salju turun menimpa pepohonan, atap-atap rumah, dan jalanan. ’’Kami menyebut Kota Ifrane sebagai Swiss-nya Maroko,’’ ujarnya.
Baca Juga:KSAU Sesalkan Insiden di Ujung GentengLagi-lagi Anggaran Pilkada Terlambat
Waktu kami berada di Ifrane, salju tidak setebal bulan Januari. Tapi, di sebagian kawasan masih tersisa tumpukan salju. Sebagian penduduk sengaja menyirami kebun dan atap rumah mereka dengan air yang segera membeku menjadi salju, memperindah pemandangan di halaman rumah.
Kami pun memanfaatkannya untuk berfoto-foto di kawasan yang masih bersalju itu. Sungguh pemandangan eksotis yang tergolong langka. Ternyata Afrika tidak hanya punya Gurun Sahara, melainkan juga salju yang demikian memesona. Subhanallah…! (*/c5/ari)
