Tak Pernah Mundur meski Disebut Pelacur

aleta-baun
Mama Aleta for Jawa Pos
PEJUANG LINGKUNGAN: Aleta Baun (dua dari kanan) bersama keluarga dan para aktivis lingkungan yang sukses mengusir aktivitas penambangan marmer di desa adat Mollo, NTT.
0 Komentar

Suatu hari Aleta menggelar aksi demonstrasi yang tidak biasa, yakni dengan mengajak ibu-ibu menenun di area tambang. Sekitar 500 perempuan terlibat dalam aksi menenun di atas bebatuan bahan tambang marmer. Aksi itu mendapat peliputan media dari mana-mana. Kasus penambangan marmer di Gunung Mutis pun jadi isu lingkungan yang mengglobal.

Sejalan dengan itu, teror juga mulai sering mampir di rumah Aleta. Yang melakukan orang-orang di perusahaan tambang tersebut dan oknum aparat keamanan yang mem-back up penambangan. Namun, Aleta tidak gentar. ”Saya tidak takut mati karena semua orang bakal mati. Jadi, saya pun tidak takut adanya teror yang bertubi-tubi itu,” jelasnya dengan tegas.

Teror yang paling banyak Aleta terima berbentuk teror psikis. Di antaranya, dia dijuluki pelacur. Sebutan keji tersebut dialamatkan ke Aleta karena sering keluar rumah pada malam hari. Padahal, dia keluar rumah untuk konsolidasi gerakan bersama para aktivis lingkungan lainnya.

Baca Juga:19 Kepala Sekolah Kena SanksiPengikut ISIS Kembali Lancarkan Aksi Teror

Sesekali Aleta juga mendapatkan teror fisik. Suatu hari rumahnya tiba-tiba dilempari batu oleh para preman. Akibatnya, selain rumahnya rusak, anak keduanya, Yordan, terluka (bocor) di kepala dan harus dirawat di rumah sakit.

Buntut teror itu, semangat suami Aleta sempat kendur. Dia meminta Aleta mengakhiri aksi penolakan terhadap praktik penambangan marmer tersebut. Namun, permintaan suami itu tidak digubris Aleta. Perempuan yang kini menjadi anggota DPRD NTT dari PKB tersebut tetap maju. Sampai akhirnya dia bersama para aktivis lainnya berhasil mengusir aktivitas penambangan di tanah kelahirannya itu pada 2009.

”Begitu penambangan berhenti, kami sangat lega. Bayangkan, sepuluh tahun kami bergerak,” ceritanya. Atas kegigihannya itu, Aleta mendapatkan penghargaan Goldman Environmental Prize pada 2013 di Amerika Serikat.

Mama Aleta menegaskan, kemenangan gerakannya bersama para aktivis lingkungan di NTT itu bukanlah akhir dari perjuangan. Sebab, tantangan berikutnya sudah menunggu. Yakni, bagaimana mengembalikan lingkungan yang sebagian sudah rusak dan bagaimana memacu pertumbuhan ekonomi warga tanpa mengorbankan alam.

Maka, kini Aleta kembali turun ke lapangan dengan menggerakkan warga untuk melakukan penghijauan. Hutan-hutan yang sebelumnya gundul ditanami kembali dengan aneka pepohonan. Terutama di sekitar sumber mata air.

0 Komentar