Tiba-tiba ada seniornya yang pulang dari Jepang. Agustin kepo dan mencari tahu apa yang membuat si senior tersebut sampai ke Negeri Sakura. Setelah tahu profesinya sebagai pelaut, dia lantas mencari tahu di mana belajarnya. Akhirnya, dia meminta kepada orang tua untuk meneruskan kuliah ke sekolah pelayaran di Semarang. ”Tapi, nggak langsung dibolehin. Khawatir saya nggak bisa bedakan, nggak bisa pakai lipstik,” ujarnya, lantas tertawa.
Namun, Agustin telanjur berkomitmen ingin mendapatkan pekerjaan yang berbeda dengan orang tua. Berbekal janji memberangkatkan haji kalau sudah sukses, restu akhirnya turun.
Saat itu dia belum kepikiran untuk menjadi nakhoda. Agustin hanya mencoba enjoy menjalankan pekerjaan yang didapatnya setelah meraih gelar S-1 pelayaran.
Baca Juga:High Speed Train Percontohan Jangka PanjangTolak LGBT kian Kencang
Nah, ketika menjadi mualim III pada 2004, dia berkesempatan memegang kemudi kapal. ”Saat itu perasaannya bangga. Keren banget ternyata,” ungkapnya.
Tiga tahun kemudian, saat berpangkat ahli nautika tingkat II, dia mulai bergabung dengan Pertamina. Bergabung dengan BUMN energi membuatnya berkesempatan bertemu dengan Karen Agustiawan, Dirut Pertamina saat itu. ”Kata Bu Karen, ayo dicoba untuk jadi nakhoda,” ingatnya.
Ucapan tokoh yang masuk Asia’s 50 Power Businesswomen versi Forbes pada 2011 itu menjadi pelecut semangat. Apalagi Agustin saat itu sudah menjadi mualim I. Posisi yang belum pernah dijamah perempuan untuk lingkup Pertamina.
Tapi, harapan menjadi nakhoda sempat luntur ketika dia dipindah dari kapal ke kantor pada 2013. Ternyata, jalan menjadi orang nomor satu di kapal tanker Pertamina justru terbuka saat itu. Ada kapten senior yang menanyakan kepada dia apakah berani menjadi nakhoda. Meski semua tes berhasil dilewati, dia sempat tidak percaya diri. Sebab, menjadi kapten kapal tanker merupakan pekerjaan yang laki banget. Tapi, ternyata dia lulus dan dipercaya menjadi nakhoda. ”Ibarat naik mobil, saya tahu bisa nyetir. Tapi, gimana ya…?” kenangnya tentang kali pertama mengomandani tanker Pertamina.
Ujian itu lantas datang sekitar Januari 2014 ketika dia melakukan pelayaran ke Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Saat itu arus sangat kencang. Seorang kawan dari kapal lain mengabarkan, kekuatan arus bisa menyeret sebuah kapal sampai membentur kapal lain.
