Di tengah serbuan brand-brand kosmetik luar negeri yang terlihat eksklusif, Martha optimistis sektor industri kosmetik lokal tak kalah bersaing. Kuncinya, masyarakat kita harus bangga dengan identitas bangsa, yaitu kearifan budaya dan kekayaan alam sendiri. Tidak semua hal yang berasal dari Barat lebih baik daripada hasil tanah air.
Dia menuturkan, justru sebenarnya pebisnis global sudah mengakui keunggulan produk herbal Indonesia. Martha mencontohkan, bahan jenis temu-temuan seperti temulawak, temugiring, dan curcuma (kunyit) diminati Belanda, Prancis, dan Jerman.
Namun, yang sering terjadi, bahan asli Indonesia diekspor dalam bentuk raw material, kemudian dikembangkan di luar negeri sehingga nilai ekonomisnya kecil. ”Beda apabila sudah diekstrak, apalagi diproses sesuai good manufacturing practices (GMP), nilainya pasti lebih mahal, petani bisa lebih makmur,” papar Martha. Sebagai negara agraris, lanjut Martha, Indonesia seharusnya bisa menjadikan sektor pertanian sebagai kekuatan ekonomi.
Baca Juga:Ngerumpi Didenda Rp 300 Ribu, Jemur Pakaian Rp 150 RibuKuota Haji Belum Pasti
Martha juga berbicara tentang masalah standardisasi yang masih menjadi kelemahan produk-produk dalam negeri. Agar mampu bersaing di pasar global, produk harus memiliki standardisasi pengendalian mutu. Pada 1996 pabriknya mendapatkan sertifikat mutu ISO 9001, kemudian pada 2000 meraih ISO 14001.
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tantangan yang dihadapi Indonesia makin besar. Terutama kualitas sumber daya manusia. Dengan adanya MEA, puluhan ribu tenaga kerja terlatih dari luar negeri bisa datang ke tanah air. Kalau tidak siap, SDM akan kalah bersaing. Orang-orang asing yang jadi pemimpin pun akan banyak. ”Kalau saya, jelas nggak rela,” tegasnya.
Martha menuturkan, potensi SDM Indonesia sangat besar dan harus dimotivasi untuk terus belajar. Jangan mudah puas dengan apa yang sudah dicapai. Harus terus berpikir what’s next. ”Apa lagi yang bisa kita kerjakan. Jangan jealous pada kemampuan orang lain, tapi what can we do, terus enggak boleh berhenti biar tidak ketinggalan,” lanjutnya.
Kreativitas pula yang menjadi pegangannya untuk melewati krisis. Dia mengingat momen krisis ekonomi 1998. Semua sektor bisnis mengalami penurunan. Puluhan pabrik di kawasan Pulogadung gulung tikar. Bukan Martha namanya bila cengeng dan menyerah. Ketika itu dia pergi ke Ranah Minang dan bertanya kepada nenek-nenek penenun, ”Warna apa yang paling dominan di sini?” Jawabannya merah dan kuning.
