”Kalau mau izin kantor pasti boleh, tapi kami yang sungkan. Sebab, kemarin waktu kasus Sara, kami diberi kelonggaran untuk meninggalkan kantor. Makanya, sekarang ini masih cari waktu yang tepat untuk membesuk,” terangnya.
Ketulusan hati Elisabeth sebenarnya ditunjukkan sejak lama. Beberapa hari setelah mengetahui anaknya dibunuh, Elisabeth bahkan bersedia menerima kedatangan orang tua Hafid dan Assyifa. Dia menerima maaf dari orang tua keduanya. Setelah pemakaman, Elisabeth di depan pusara anaknya juga meminta Ade Sara memaafkan Hafid dan Assyifa.
Bukan hanya itu, momentum ketulusan Elisabeth juga beberapa kali terekam media ketika Hafid dan Assyifa menghadapi sidang. Elisabeth selalu menemui keduanya di ruang tunggu terdakwa. Bahkan, beberapa kali dia membawakan bekal makanan.
Baca Juga:Berikan Harga Khusus untuk Andromax 4G LTE, Hisense Pureshot dan MiFiAnindya Kusuma Putri Pulang Bawa Gelar Top 15
Sebagai orang yang pernah dekat dengan Ade Sara, Hafid tahu betul ketulusan Elisabeth. Dia pun tidak menaruh kecurigaan apa pun ketika dibawakan makanan oleh Elisabeth. ”Yang sempat curiga adalah Assyifa. Dia tidak mau dengan makanan yang saya bawa. Bahkan, dia sempat sewot, tapi saya coba sabar. Namanya juga anak muda,” ungkapnya.
Elisabeth menuturkan, awal-awal dirinya kehilangan Ade Sara, sering tebersit kemarahan kepada pembunuh anaknya. Namun, dia bersyukur, emosi dan nalarnya bisa dikendalikan. ”Saya mikirnya simpel, kalau meluapkan marah dengan cara membalas, pasti saya harus menanggung konsekuensi hukum. Bisa jadi saya makin kehilangan segalanya dan itu juga tak menyelesaikan masalah,” jelasnya.
Ketika kemarahan berkecamuk di hatinya, doa menjadi obat penenang. Dia memohon kepada Tuhan untuk dikuatkan. ”Sampai sekarang, sering keingat Sara. Apalagi kalau di televisi atau pas lagi di jalan ada lagu yang dia sukai,” ucap dia.
Meski sibuk bekerja di luar rumah, Elisabeth selalu punya waktu untuk Sara. Itulah yang membuat Sara sangat dekat dengan Elisabeth. Apa pun yang dialami Sara waktu itu pasti dicurhatkan kepada mamanya. Obrolan anak dan ibu tersebut kadang terjadi di rumah, kadang juga di dalam gerbong kereta.
Ibu dan anak itu setiap hari memang berangkat kerja dan kuliah dengan kereta dan angkot yang sama. Sebab, kantor Elisabeth satu arah dengan kampus Sara. ”Termasuk soal hubungannya dengan Hafid, dia selalu cerita kepada saya. Seringnya cerita pas di kereta,” papar perempuan kelahiran 20 Mei 1974 tersebut.
