Beberapa tahun lalu, Presiden UEFA Michel Platini menyebut pembiayaan dari socios ini sebagai sebuah sistem yang ideal. Dikutip Mundo Deportivo, pria yang sekarang berstatus nonaktif lantaran terlibat kasus suap Sepp Blatter itu menilai sistem kepemilikan socios bisa menjadi solusi bagi klub untuk tetap eksis.
”Socios sangatlah berkuasa, dan itu hebat. Mereka bisa mengatur pengunaan anggaran belanja supaya tidak terlalu berlebihan,” sebut Platini. Ambil contoh, jika Perez diketahui menyelewengkan anggaran, socios bisa memintanya turun dari jabatan. ”Jika fans tidak senang dengan rencana presiden klub dalam merekrut pemain, suara mereka akan menjadi pertimbangan,” imbuhnya.
Platini tidak menentang adanya investor asing yang menanamkan saham di sebuah klub. Hanya, dalam perjalanannya, banyak investor yang malah seringkali mengambil keputusan sendiri tanpa mempertimbangkan keputusan fans. Itu terbukti ketika saham mayoritas Manchester United dibeli keluarga Glazer lima tahun silam.
Baca Juga:Cristiano Ronaldo DiasingkanBerebut Tahta di Olimpico
Kala itu, setiap keputusan klub sering kali tidak sejalan dengan keinginan fans. Persoalan seperti itu tidak akan terjadi jika yang memiliki saham adalah socios. ”Apa sih enaknya apabila klub dikuasai pihak ketiga seperti para investor asing itu. Saya pribadi tidak bisa menerima sistem itu,” cibir Platini.
Di La Liga, masih banyak klub yang dikelola secara konvensional. Artinya, dimiliki oleh investor. Salah satu yang cukup fenomenal adalah Atletico Madrid. Pengusaha yang membeli 20 persen saham Los Rojiblancos pada Januari lalu itu menyuntikkan anggaran sebesar EUR 20 juta (setara dengan Rp 291.7 miliar).
Berkat injeksi dana itu, Atletico mampu berfoya-foya di bursa transfer. Total mereka menggelontorkan uang EUR 98 juta atau Rp 1,4 triliun untuk membeli pemain semacam Jackson Martinez dan Stefan Savic. Tapi, apakah sistem itu lebih bagus dari socios? No. Cukup lihat klasemen, kita akan mendapatkan gambarannya. (ren/na/asp)
