Mengukur Posisi Terperinci Pembalap

WIN Tunnel
0 Komentar

Kami berempat ada di dalam, Chris Yu berjalan keluar. Dia menutup pintu, dan menekan-nekan tombol di komputer, menyalakan terowongan angin.

Saat itu kami sempat heran, kenapa kok sepeda berdiri membelakangi enam fan (kipas). Ketika terowongan mulai beroperasi, barulah kami sadar.

Chris Yu menambah kecepatan perlahan. Dari 30 km per jam, lalu meningkat hingga 87 km per jam, membuat kami harus berdiri miring supaya tidak terdorong oleh angin.

Baca Juga:H.Nindin Dian Suarsa Terpilih sebagai Forum Kopkar BCAJadwal Neraka Real

Posisi berdiri kami waktu itu ”salah”. Mengira angin akan muncul dari arah kipas. Ternyata, angin muncul dari arah sebaliknya. Kipas itu bukan meniup, melainkan menyedot angin. Nah, anginnya berputar lewat jalur yang ada di atas platform.

Pantas sepedanya dipasang membelakangi kipas!

”Hampir semua orang mengira anginnya dari arah kipas”, kata Chris Yu lantas tersenyum.

Mengapa begitu? Menurut Yu, itu supaya angin yang melewati barang yang akan diuji jadi lebih ”clean”. Maksudnya, angin ditiup ke belakang oleh kipas, diputar ke atas, melewati sebuah filter, baru menghembus ke arah barang yang diuji. Tidak ada angin ”liar” sehingga data yang direkam lebih “bersih” dan akurat.

Mengapa harus bikin wind tunnel sendiri? Yu menjelaskan, terowongan angin yang dipakai industri mobil kuranglah pas untuk sepeda. Sebab, kecepatan terowongan angin untuk mobil terlalu tinggi. Sementara sepeda hanya perlu diukur efisiensinya di kecepatan antara 20-110 km per jam.

Di ruang kontrol WIN Tunnel, tampak sebuah lempengan besar terbuat dari carbon fiber. Di permukaannya penuh dengan tanda tangan para pembalap kelas dunia. Seperti Mark Cavendish (Inggris, juara dunia 2011), Michal Kwiatkowsi (Polandia, juara dunia 2014), Niki Terpstra (Belanda), dan lain-lain.

Ya, terowongan ini juga dipakai untuk mengoptimalkan posisi duduk para pembalap. Memastikan posisi mereka paling aerodinamis, lebih menyatu dengan sepeda yang mereka tunggangi.

Bukan hanya posisi pembalap, terowongan ini juga dipakai untuk menyimulasikan situasi lomba. Misalnya, beberapa pembalap dibariskan depan kipas, lalu diuji kerapian angin dalam melewati badan mereka.

Baca Juga:Krisis Amunisi Jelang DerbyTuchel Pulang Kandang

Ini sangat berguna untuk event Team Time Trial (TTT), di mana lima pembalap atau lebih melaju berderetan lalu bergantian menarik di depan untuk mencatat waktu terbaik.

0 Komentar