Anaz Khairunnas, Desainer Langganan Kontestan Pemilihan Ratu Sejagat

Kesempurnaan gaun memiliki persentase penting dalam penilaian untuk menentukan kontestan yang melaju ke babak berikutnya. ’’Gaun rancangan seorang desainer akan bergaung ketika dipakai pada malam preliminary show,’’ ungkap Anaz.

Gaun Java Blossom rancangan Anaz turut membawa Whulan masuk dalam Top 16 Miss Universe 2013. Gaun putih dengan shaping memeluk tubuh ala mermaid dan aksen cutout di pinggang itu terlihat menyatu dengan Whulan.

Tahun berikutnya, beban Anaz makin bertambah. Dia kembali diserahi tugas oleh Yayasan Puteri Indonesia (YPI) untuk membuatkan gaun untuk preliminary show. Hasilnya, mahakarya Anaz berupa evening gown Silent Maja yang terinspirasi kejayaan Kerajaan Majapahit berwarna silver mengantarkan Elvira Devinamira melaju ke Top 15 Miss Universe 2014. Gaun Anaz pun kembali mendapat sorotan di level dunia.

Kunci di balik itu adalah observasi panjang. Sejak rajin mengikuti update Miss Universe pada usia 13 tahun, yang paling diamati Anaz adalah gaun-gaunnya. ’’Gaun-gaun di Miss Universe itu selalu memeluk tubuh. Jangan sampai gaun merusak figur si pemakai,’’ paparnya. Selain itu, chemistry dengan sang pemakai gaun sangat penting.

’’Misalnya, dengan Whulan. Untuk mendapatkan chemistry, cepat sekali. Dia sharing ingin gaun seperti apa, kami diskusi, bikin banyak gaun sampai dipilih yang paling cocok. Dengan Elvira juga gitu, kami sering ngobrol untuk merancang konsep desain gaun,’’ tuturnya.

Anaz lekat dengan dunia fashion sejak kecil. Tumbuh di Desa Pakandangan Barat, Sumenep, dari orang tua perajin batik, Ahmad Zaini dan Fauziah, Anaz sejak SD bisa membatik. Lulus SMA pada 2008, dia merantau ke Jakarta, mengambil sekolah fashion di LPTB Susan Budihardjo. ’’Awalnya, orang tua kurang setuju. Inginnya saya kuliah kedokteran atau jurusan yang dianggap lebih prospektif. Tetapi, karena tekad saya kuat, ortu akhirnya luluh mengizinkan,’’ ungkapnya.

Dia juga bergabung dengan Indonesian Pageant, komunitas pencinta dan pengamat pageant. Setahun sekolah fashion design, Anaz magang sebagai asisten desainer (alm) Adesagi. Tidak butuh waktu lama, pada 2010, dia mantap membuat label sendiri, ANAZ.

Dari komunitas Indonesian Pageant, Anaz mendapat link menuju Puteri Indonesia. Progresnya terbilang cepat. Dalam waktu tiga tahun, gaun Anaz sudah melenggang ke Miss Universe. ’’Pada zaman Whulan itu, saya menjadi desainer termuda yang gaunnya dipakai kontestan dalam ajang Miss Universe,’’ ucapnya. Ketika itu, Anaz baru berusia 24 tahun. ’’Bersyukur dipertemukan dengan teman-teman Indonesian Pageant yang mengenalkan ke YPI. Bersyukur diberi kesempatan oleh YPI. Itu sangat berpengaruh bagi perkembangan karir saya,’’ ungkapnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan