Sulit Dapat Air Bersih

kekeringan
FAJRI ACHMAD NF/ BANDUNG EKSPRES
TANAH RETAK: Kekeringan yang melanda sejumlah daerah membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
0 Komentar

Fajar bersama warga lainnya di Desa Sekarwangi umumnya, dan khususnya di Kampung Tegal Ilat, meminta pemerintah lebih memperhatikan masalah tersebut. Terlebih, tiga desa tersebut lokasinya tidak begitu jauh dari Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung. ’’Ya, masa saja pemerintah tidak memperhatikan. Kami juga paham kalau musim kemarau bukan daerah sini saja yang susah air. Tapi, yang jadi masalahnya kan solusi untuk saluran air dari Sungai Cibeureum ke tiga desa ini. Makanya, kami berharap pemerintah memikirkan terkait jalur air in’’ harapnya.

Dari keterangan yang dihimpun, kurang lebih ada 500 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Tegal Ilat yang mencakup tiga RW yakni RW 07, 08 dan 13 yang kini harus kesulitan mendapat air bersih. ’’Sekarang air di Sungai Cibeureum masih terbilang ada, itu pun kalau ada harus berebut sama desa lain. Nah, bagaimana kalau nanti kemarau ini masih lama dan dari sungai itu airnya sudah benar-benar kering. Semakin susah saja warga dapat air,’’ ungkapnya.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Sekarwangi Sukmaya, pihaknya sudah melakukan peninjauan dan pendataan terkait kesulitan air bersih yang dialami warganya. ’’Iya, memang di wilayah saya sudah mulai kesulitan air bersih. Namun, kita sudah melakukan pendataan dan besok akan diserahkan kepada Kecamatan untuk mengajukan bantuan kepada dinas terkait,’’ ungkapnya.

Baca Juga:Sampah Tangkuban Parahu Capai 16 Meter KubikProduksi Ikan Waduk Cirata Turun

Selain berdampak pada kesulitan air bersih, kekeringan pun ternyata menyulitkan para peternak untuk mencari rumput bagi hewan peliharaannya. Para peternak kelinci di Desa Cangkuang, Kecamatan Cangkuang sangat merasakan hal tersebut. Wawan Setiawan, 40, seorang peternak kelinci yang biasanya hanya mencari rumput di sekitar Cangkuang, mengaku sangat kesulitan. Karena sekarang, mereka harus mencari rumput untuk makan 100 ekor kelinci miliknya sampai ke Pangalengan, Margahayu, Katapang dan Ciwidey. ’’Biasanya sekitar rumah juga banyak rumput, kalau sekarang susah. Rumput pada kering ya terpaksa harus ekstra tenaga dan ekstra budget untuk mencari rumput,’’ paparnya.

Wawan juga merasa khawatir. Jika terus seperti ini nantinya akan berdampak pada kualitas hewan ternaknya. ’’Ya cukup khawatir. Kalau kurang makan kan kelincinya bisa sakit bahkan mati. Nanti akan berpengaruh juga pada omset,’’ tandasnya. (mg15/far)

0 Komentar