Ratusan Ayam Mati Mendadak di Banjaran

BANJARAN – Ratusan ayam kampung mati mendadak di RT 05, RW 02 Kampung Bojongpulus, Desa Banjaran Wetan. Angka itu diperoleh dari rangkaian kematian ayam sejak sepekan sebelum Lebaran hingga kemarin (23/7), yang dialami sejumlah peternak di daerah itu.
Menurut Deni Rosadi, 38, ayamnya yang berjumlah 17 ekor dalam kondisi baik sehari sebelumnya. Namun, setelah diberi makan pada Rabu sore (22/7), beberapa jam kemudian satu ayam ketahuan mati di kandang. Pada Kamis (23/7) pagi, ayamnya yang lain masih terlihat sehat. Bahkan, sempat diberi makan dan dibiarkan berkeliaran seperti biasa. Tapi, pada saat pulang kerja di sore hari, dia sangat terkejut melihat hampir seluruh ayam mati.
’’Hanya tinggal seekor (ayam) dan itupun sudah terlihat lemas,’’ jelas dia ketika ditemui Soreang Ekspres (Group Bandung Ekspres) di rumahnya.
Peternak lain Uwen yang mengaku sudah 35 tahun mengurus ayam, juga merasa sangat heran karena kejadian ini. Sebab, baru pertama kali terjadi. ’’Dari kemarin ayam saya sehat-sehat saja. Tapi, tiba-tiba tujuh ekor ayam saya mati mendadak,’’ kata dia.
Karena merasa takut akan mengganggu tetangga dengan bau menyengat, Deni, Uwen dan beberapa peternak lain yang ayamnya mati mendadak, buru-buru membuang bangkai ke sungai. Lokasinya tidak jauh dari pemukiman. Namun, sebagian lain ada yang dibakar berikut kandangnya.
Para peternak tersebut merasa, mereka dan keluarga dalam keadaan sehat. Dengan begitu, hanya mengasumsikan bahwa kematian ayam karena faktor cuaca dan tidak berkaitan dengan flu burung.
Ketua Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Desa Banjaran Wetan Abdulah, yang bertempat tinggal di daerah tersebut langsung berinisiatif mendata semua peternak yang ayamnya mati mendadak. Menurut dia, beternak ayam memang sudah menjadi pekerjaan sampingan warga di sana. Sebab, memang cukup bisa diandalkan untuk menambah penghasilan. Tapi, sejak dua minggu terakhir, banyak ayam tiba-tiba mati. Padahal, sedang dalam kondisi sehat. Sampai puncaknya terjadi hari Rabu dan Kamis kemarin.
Karena itu, dia segera tanggap mendata setiap ayam yang mati. Sebab, sangat khawatir akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Terutama lingkungannya, karena merupakan kawasan padat penduduk. Jarak kandang ayam dan rumah pemilik sangat berdekatan.
’’Sekarang kan sedang ada perubahan musim. Kemarin panas tiba-tiba hujan sebentar, dan warga di sini juga banyak yang sedang sakit batuk. Selain itu, di sini juga banyak balita, sehingga saya sangat mencemaskan kematian ayam-ayam tersebut bisa berdampak pada kesehatan,’’ beber dia.
Dari data yang telah dikumpulkan dari 14 orang peternak, total ayam yang mati berjumlah 111 ekor. Abdulah sudah melaporkan kejadian yang cukup menggemparkan warga tersebut kepada pemerintah desa, kecamatan dan juga Dinas Peternakan. ’’Katanya besok (hari ini) akan ditinjau ke sini,’’ ucap dia.
Terkait penanganan, dia akan menunggu hasil tinjauan dari pihak pemerintah, apakah akan dilakukan pemeriksaan kesehatan masal atau langkah apa yang terbaik bagi masyarakat. ’’Soalnya kita kan nggak bisa bergerak sendiri,’’ pungkasnya. (mg15/hen)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *