oleh

Investasi Asing Minim

 [tie_list type=”minus”]Batam Hanya Peringkat 20 di Indonesia[/tie_list]

BATAM KOTA – Status Free Trade Zone (FTZ) yang disematkan ke Batam bisa dikatakan jalan di tempat. Bagaimana tidak, data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat menempatkan Batam diurutan 20 sebagai kota dengan Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar di Indonesia. Pengusaha pun meminta BP Batam untuk terus meningkatkan pelayanan.

Siswantoro, Direktur Sarana dan Perencanaan Jasa dan Kawasan BKPM mengatakan mulai 2010 sampai triwulan I 2015 lalu, Batam belum bisa bersaing dengan daerah-daerah yang ada di Jawa.

Batam hingga tahun yang disebutkan hanya memiliki investasi sekitar 1.272.401.000.000 US Dolar. Tetapi investasi ini belum termasuk dalam sektor migas dan sektor keuangan. ’’Batam itu hanya diurutan 20. Masih kalah bersaing dengan sejumlah daerah di Jawa, termasuk beberapa di daerah Kalimantan,’’ katanya.

Untuk urutan pertama PMA di Indonesia masih dipegang oleh Jakarta Selatan diikuti Bekasi, Jakarta Pusat, Kerawang, Cilegon, Mimika, Balik Papan, Probolinggo, Banggai, Gresik, Sumbawa, Jakarta, Purwakarta, Siak, Serang, Tangerang, Bogor dan Ketapang.

Terkait hal tersebut, Siswantoro mengimbau semua perwakilan BKPM di pusat termasuk BP Batam untuk terus meningkatkan pelayanan. Pelayanan Terpadu Satu Pintu harus terus berbenah dan harus sesuai dengan di pusat.

’’Jika perizinan di pusat hanya tiga hari misalnya, maka di daerah tidak bisa lebih dari situ. Justru harus diusahakan lebih cepat. Kenapa dipusat bisa cepat padahal lebih banyak yang diurus,’’ tuturnya.

Lima Investasi PMA yang paling banyak di Batam masih didominasi sektor logam dasar, barang logam, Mesin dan Elektorik. Kemudian sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi. Urutan ketiga adalah sektor industri alat angkutan dan tranportasi lainnya, kemudian diurutan keempat adalah industri kimia dasar, barang kimia dan Farmasi. Dan urutan kelima adalah Hotel dan Restoran.

’’Sebenarnya bukan hanya di Batam yang perlu ditingkatkan. Di seluruh kabupaten/kota di Indonesia juga harus terus ditingkatkan,’’ tuturnya.

Sementara negara penanam investasi terbesar di Batam masih tetap didominasi oleh negara-negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia. Kemudian beberapa negara dari Asia Timur, seperti tiongkok, Korea dan beberapa negara di Amerika.

Terkait hal ini, Ketua Apindo Kepri Cahya meminta BP Batam untuk terus meningkatkan pelayanan. Di mana saat ini, ekonomi global sedang bermasalah. Dengan kondisi ekonomi global yang ada sekarang ini, maka BP Batam tidak boleh lengah.

’’BP Batam harus terus berbenah dan meningkatkan pelayanan. Jangan sampai kita terus ketinggalan dan tidak mampu bersaing dengan negara tetangga,’’ imbuhnya.

Dalam hal berpromosi keluar daerah maka harus sama dan diimplementasikan ketika investor sudah berniat menanamkan modal di Batam. Termasuk mempermudah perizinan yang ada di PTSP BP Batam.

’’Saya akui, belum ada keluhan terkait PTSP. Sejauh ini masih berjalan baik di PTSP. Tetapi harus terus ditingkatkan dan bisa lebih cepat untuk pengurusan penanaman modal,’’ tuturnya.

Cahya mengatakan bahwa BP Batam harus siap untuk menjemput bola ke daerah manapun. Bahkan dalam kondisi seperti apa pun, BP Batam harus membuat calon investor senyaman mungkin.

’’Ibaratnya, kalau tengah malam pun ada orang mau masuk ke rumah kita, harus kita layani dengan baik. Jangan sampai dia lari ke rumah orang lain,’’ katanya. (ian/ray/jpnn/far)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga