oleh

DP Ringan, Pengusaha Riang

JAKARTA – Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Eddy Hussy, mengaku sudah mendengar tentang rencana pelonggaran loan to value (LTV) pada kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB).

Industri Otomotif
JP PhotoDONGKRAK PENJUALAN: Pengunjung melihat mobil yang diperlihatkan pada sebuah pameran otomotif.

Pihaknya menyambut baik karena hal itu bisa berdampak positif terhadap pasar properti yang sedang lesu. ’’Stimulus pemerintah akan sangat membantu, tapi kita belum tahu kapan itu dilaksanakan,’’ ujarnya.

Dia berharap penjualan properti yang turut anjlok seiring rendahnya pertumbuhan ekonomi bisa terbantu dengan adanya pelonggaran LTV tersebut. Sebab, REI mencatat pada kuartal pertama tahun ini terjadi penurunan omzet penjualan properti yang sangat tajam. ’’Anjlok sekitar 30-40 persen dibanding kuartal empat 2014,’’ terangnya.

Jika dibandingkan dengan kuartal pertama 2014, angka penjualan pada kuartal pertama tahun ini juga jauh lebih rendah. Padahal, kata Eddy, tahun lalu penjualan properti melemah daripada tahun sebelumnya. ’’Tahun lalu penjualan turun karena ada pemilu. Orang cenderung wait and see,’’ tuturnya.

Harapan REI pada 2015 penjualan properti bakal kembali pulih ternyata tidak terbukti. Penjualan pada kuartal pertama 2015 justru lebih rendah daripada kuartal pertama 2014. ’’Kami tidak punya angkanya. Hanya melihat dari laporan beberapa pengembang properti yang biasanya launching laris sekarang tidak laku,’’ akunya.

Selain masalah LTV, penjualan properti masih terkendala kurs rupiah yang masih lemah serta tingginya tingkat suku bunga kredit. Meski begitu, pihaknya telah mendengar rencana pemerintah untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate). ’’Suku bunga KPR sekarang ini rata-rata 12-13 persen, tapi biasanya bank punya program bunga tetap untuk 2-3 tahun pertama,’’ lanjutnya.

Dia berharap, kondisi perekonomian nasional cepat pulih sehingga penjualan properti bisa meningkat. ’’Maunya kita hari ini kondisi bisa kembali bagus. Secepatnya pulih. Tapi, itu memang tidak mudah karena kondisi perekonomian global juga sedang menurun. Jadi, yang kita butuhkan sekarang adalah intervensi pemerintah,’’ imbuhnya.

Bank Indonesia (BI) bakal melonggarkan aturan terkait loan to value (LTV) pada kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pelonggaran itu diberikan dalam bentuk penurunan syarat besaran uang muka (down payment/DP) minimal yang harus ditanggung konsumen yang hendak mengambil KPR dan KKB dari sebelumnya 20 persen menjadi cukup 10 persen. (dee/wir/c9/kim/far)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga