oleh

Data Satelit untuk Akurasi Pemetaan

Dia menjelaskan, data satelit bisa diturunkan menjadi peta dasar perencanaan sejumlah sektor pembangunan. Citra satelit bisa digunakan untuk memotret sektor fisik maupun sosial budaya seperti perencanaan pengembangan jalan yang di dalamnya turut mengintegrasikan kondisi kependudukan di suatu kawasan.

Dengan bekal data satelit, perencana pembangunan bisa melihat aspek kepadatan penduduk sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan tingkat beban jalan, pengembangan angkutan umum, dan lain-lain.

Menurutnya, peta spasial lebih detail tersebut terdapat dalam rencana detail tata ruang (RDTR) dengan skala 1:5.000. Artinya, 1 sentimeter peta menggambarkan jarak 50 meter. Skala ini sudah cukup detail untuk membuat perencanaan pembangunan. Sayangnya, tidak pernah tersusun secara tuntas. Akibat ketiadaan peta representatif ini memicu pelambatan perencanaan itu

“Kita berpikir, kalau kita ingin mengejar peta representatif, maka akan sampai kapan? Ini membutuhkan waktu sangat lama. Di lain pihak, investasi atau kebutuhan di lapangan sudah sangat cepat,’’ tukasnya.

Karena itu, maka tenologi memungkinkan untuk ini, menghadirkan peta dengan skala 1:5.000. Ini bisa memenuhi kebutuhan kita dari citra lanskap untuk kemudian diturunkan jadi peta dasar atau peta tematik,” kata Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Jawa Barat periode 2011-2015 tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.