oleh

Mall Tak Terpengaruh Isu di AS

Terkait Penutupan Massal Akibat Online Shop

KIARACONDONG – Fenomena jualan online sudah menjamur di sebagian masyarakat. Hal ini juga mempengaruhi pola yang biasanya harus mendatangi pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan, di Amerika Serikat (AS) beberapa mall mulai ditutup.

 Terkait dengan hal ini, Managing Director Bandung Trade Mall (BTM) Herry Suherlan menanggapi santai. Sebab, sejauh ini menurutnya tidak ada pengaruh yang signifikan. Karena jual beli online masih dilakukan oleh komunitas terbatas. Itupun, masih dilanda kekhawatiran karena jual beli jalur online terdapat aksi penipuan.

 Menurut Herry, banyak hal yang mempengaruhi keberlangsungan mall masih berjalan, terutama di Kota Bandung. Seperti, kultur, cuaca, dan mobilitas kerja masyarakat. ”Apalagi orang Bandung yang suka ngariung,” tuturnya kepada Bandung Ekspres di kantornya, Jalan Ibrahim Adjie, kemarin (4/2).

 Sehingga, apa yang dialami di AS tidak bisa disamakan dengan kondisi di negara berkembang seperti Indonesia. Herry menegaskan, belanja jalur online terhadap mall yang dikelolanya tidak terlalu berpengaruh. ”Melihat risikonya cukup besar,” ungkap pria yang sekaligus menjabat Ketua Komite Properti Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Barat itu.

 Selain itu, Kota Bandung merupakan salah satu tujuan wisata dari berbagai daerah. Sehingga mall tidak hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga menjadi tujuan wisata. Termasuk menghadirkan aspek hiburan bagi semua kalangan.

Menurut Herry, upaya promosi pun selalu dilakukan. Melalui event-event yang dipusatkan di mall-nya itu. ”Termasuk promosi melalui media elektronika dan cetak,” ucapnya.

 Namun, sejauh ini permasalahan yang dialami oleh pihaknya adalah kurangnya dukungan dari pemerintah. Padahal, BTM merupakan proyek hasil kemitraan bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Bandung. Pemkot Bandung pun mendapatkan hasil dari aset bersama itu.

Herry berharap, selaku mitra usaha Pemda memberikan perhatian dan dukungan. Terutama kemudahan dalam mewujudkan Bandung kota wisata belanja. ”Dengan memunculkan budaya ngariung dan ramah. Selain suka berbelanja,” tuturnya.

Di AS, sudah lama terjadi dimana pasar lebih besar dari permintaan. Banyak mall yang sama sekali tidak digunakan lagi, menjadi gedung yang terbengkalai. Sementara, yang lain berusaha berbenah dengan menambah perpustakaan, apartemen atau kantor pemerintahan.

 Terpisah, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, mall itu mirip puskesmas. Ada teori jarak dalam pembangunannya. Misalnya, satu mall untuk tiga kecamatan. Sehingga, jumlah tidak masalah jika jaraknya proporsional. ’’Yang jadi masalah itu kalau jarak mall berdekatan. Itu aja,’’ ucapnya.

 Diapun tidak menampik bahwa Kota Bandung bisa jadi menambah mall lagi. Namun, lokasinya disesuaikan dengan kebutuhan. ’’Misalnya di Bandung Timur sama Gedebage tuh. Kan nggak ada mall,’’ ucapnya. (mg2/tam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.