Mangga Gedong & Manggis Didorong Tembus Jepang

12
TINGKATKAN KUALITAS: Sekda Jabar berbicara dihadapan para petani holtikultura untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian buah.

BANDUNG-Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat mendorong mangga gedong dan manggis bisa menembus ekspor Jepang yang selama ini terkenal sulit menerima komoditas provinsi tersebut.

Sekretaris Daerah (Sekda) Prov. Jabar Iwa Karniwa mengatakan selama ini komoditas Jabar agak sulit menembus Jepang karena ketatnya sejumlah persyaratan. Pihaknya kali ini lebih optimis karena dari Japan Indonesia Comittee akan beraudiensi.

“Ekspor itu paling sulit ke Jepang, tapi dengan adanya rencana Jepang [investasi] kita siapkan dua komoditas saja,” katanya saat dihubungi kemarin (9/11)

ads

Menurutnya dua komoditas yang disiapkan yakni mangga gedong gincu dan manggis yang berasal dari kawasan Utara dan Priangan. Rencananya pihak pengusaha Jepang akan didorong sebagai investor komoditas ini lewat skema inti plasma. “Jadi kita harapkan Jepang sebagai pembeli dan kalau dimungkinkan jadi investor inti plasma,” tuturnya.

Dia menilai skema inti plasma bisa menjamin kepastian bagi petani komoditas tersebut mengingat ada kepastian pasar, harga dan pembeli. Pemprov yakin dengan cara ini maka kesempatan petani mendapat penghasilan tinggi sangat terbuka. “Karena harga ekspor itu mahal, bisa Rp40.000-Rp50.000 per kilo, itu untuk manggis,” ujarnya.

Saat ini komoditas tersebut di pasar lokal hanya dihargai Rp7.000-Rp11.000 per kilogram. Jepang menjadi pasar potensial, mengingat buah-buahan ini lebih banyak diterima pasar ekspor China, Hongkong, Belanda hingga Perancis. “Kita juga tingkatkan pertanian yang berdaya saing sehingga bisa meningkatkan cadangan devisa,” tuturnya.

Iwa mengaku Pemprov Jabar sudah menyiapkan kesediaan lahan dan berapa banyak tanaman gedong dan manggis. Untuk gedong saat ini tercatat kontribusi terbesar datang dari Majalengka yang mencapai 403.000 pohon, dengan luas lahan 4.033 hektar dan produksi mencapai 325.457 ton per tahun. “Nilai ekspor mangga gedong baru mencapai US$ 638.136, Jepang masih belum [menerima] untuk mangga,” paparnya.

Sementara produksi manggis paling tinggi berasal dari Tasikmalaya yang memiliki 431.000 pohon dan luasan hingga 4.313 hektar, produksinya hingga 28.693 ton. Tasikmalaya menurutnya menyumbang 45% produksi manggis Jabar. “Lahan di Tasikmalaya masih sangat luas dan cocok untuk [budidaya] manggis,” katanya.

Menurutnya komoditas mangga gedong tersebar di wilayah Indramayu, Sumedang, Majalengka, Kuningan dan Cirebon.

Data 2017 lalu menunjukan dari 6 wilayah ini kapasitasnya mencapai 2,39 juta pohon, luasan 23.959 hektar dan produksi 325.457 ton. “Kontribusi terbesar Majalengka disusul Indramayu yang produksinya 77.474 ton,” ujarnya.

Menurutnya mangga gedong sangat diminati pasar ekspor Singapura, Oman, Amerika Serikat hingga Jerman. Sementara manggis sendiri dihasilkan oleh 5 sentra produksi di Priangan, dari Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi dan Purwakarta. (yan)

~ads~
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.