Impian jadi Dokter, Anak Penggali Kubur

Inka Remaja Cerdas Lolos SNMPTN Kedokteran Unpad

160
GIAT BELAJAR: Inka selalu meluangkan untuk mengisi dengan belajar di rumah kontrakan orang tuannya yang sederhana.

Lahir dari keluarga sangat sederhana dan memiliki keterbatasan finasial tidak membuat Inka patah semangat dalam menuntut ilmu. Dalam kesehariannya remaja putri ini selalu ceria dan tidak pernah minder dengan keadaan kedua orang tuanya. Belajar, berusaha keras dan selalu berdoa adalah motto hidupnya yang selalu dia pegang teguh meski kedua orang tuannya sudah lama berpisah.

Nur Azis, Kota Cimahi

Berjalan sampai kebatas, berlayar sampai kepulau pribahasa ini, layak disematkan oleh Inka Kusmayati, 18. siswi SMA negeri Cimahi ini berhasil lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) 2018.

Berkat usaha dan kerja kerasnya dalam belajar akhirnya inka bisa membuat kedua orang tuannya menangis bahagia ketika melihat namanya tercantum di deretan siswa terpilih di universitas negeri ternama di Indonesia.

Usaha dalam belajar yang dilakukan gadis berhijab ini tidak sia-sia, setelah Universitas Padjajaran (Unpad) merupakan kampus yang dimimpikannya untuk kuliah kini, sebentar lagi menjadi kenyataan.

Sebetulnya Inka bukan dari keluarga berada. Tetapi dengan tekad dan kemauan kerasnya dia berahasil menyisihkan ribuan peserta SNMPTN lainnya. Bahkan, fakultas kedokteran Unpad siap menjadi tempat untuk menimba ilmu.

Saat ditemui di kediamannya di Jalan Margamulya, Gang Masjid Al fatah, RT 09 RW 01, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah. Anak semata wayang dari pasangan Dedi Ismayadi, 62, dan Ati Rismiati, 48, begitu ramah menyambut kedataangan Jabar Ekspres. Malah, dari raut wajahnya senyum sumringah selalu tampak ketika di wawancara.

Kondisi Rumah yang di kontrak orang tuanya terbilang sederhana. Di Dalam ruangan tidak banyak perabot rumah tangga yang terlihat di ruangan berukuran 5×3 meter. Hanya alaskan tikar sederhana sebagai tempat duduk untuk menerima tamu.

Inka mengaku, kaget dengan diterimanya di salah satu universitas ternama di Bandung itu. Dia merasa tidak menyangka setelah melihat pengumuman pada Laptop pemberian teman-temannya ketika berulang tahun.

“Kira kira pukul 17.05 WIB kemarin saya buka laptop untuk melihat pengumuman itu. Dan ternyata saya lolos dan kaget banget. Sampai saya teriak dan bapak juga kaget,” kata Ingka seraya tertawa gembira.

Setelah mengetahui lulus Inka beserta kedua orang tuanya menangis haru sambil sujud sukur. Sebab, usaha dan jerih payah membiayayai selama bersekolah membuah hasil membanggakan.

“Bapak tidak bisa bilang-bilang apa-apa lagi hanya bisa bilang Allohuakbar, mungkin gak nyangka,” ucap Inka sambil kedua bola matanya berkaca-kaca.

Sambil menyeka air mata yang mulai menetes Inka tak ingin terbangun jika kenyataan ini hanya sebuah mimpi. Namun Inka sadar, dengan keyakinannya yang selalu dijaga. Keyakinan hasil dari kerja keras dalam belajar berbuah takdir manis.

’’Menjadi dokter adalah cita citanya sejak duduk di kelas II SMP,”lirih Inka sambil berderai air mata.

Sambul menenang diri, Inka mengaku optimis bisa kuliah meski keadaan orang tuanya buka dari keluarga berada.

Gadis berkacamata ini merasa yakin, urusan rejeki yang maha kuasa akan selalu memberikan kemudahan selama manusianya mau berdoa dan berusaha.

Bahkan, ketika SMA dulu Ayahnya pernah menjual TV kesayangan kweluarga hanya untuk membayar seragam sekolah yang nunggak.

’’ Sampai sekarang saya mah tak pernah tahu acara TV, setelah televisinya dijual bapak, dan masuk SMA juga menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM),” ucap dia sembari tertunduk malu.

Untuk menuju sekolah, setiap hari Inka harus berjalan kaki. Dan selama tiga tahun Inka bulak balik sekolah dengan berjalan kaki. Meski jarak rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Bahkan, Inka sering menahan lapar dan tidak pernah membawa uang saku ke sekolah.

Ayah Inka bekerja serabutan sebagai tukang gali kubur, setiap hari penghasilan tidak menentu. Sedangkan ibu tercinta sudah lama meninggalkannya sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Inka kini hanya tinggal dengan ayahnya yang sekarang sudah mulai menua dan kerap mengalami sakit Asma dan Hernia.

“Mamah sekarang ada di Cianjur, hingga saat ini belum ada komunikasi lagi, kalau komunikasi itu tersendat sendat. Sekali komunikasi kemudian lama gak komunikasi lagi. Terakhir komunikasi itu tahun 2017,” kata seraya selalu memendam rindu ingin bertemu dengan ibunya.

Meski kehidupan Inka tak seberuntung, remaja lain seusianya, namun tak menjadikan Inka minder saat berkumpul dengan teman temanya di sekolah. Inka merupakan anak ceria dan mudah bergaul. Tak pernah sekali pun Inka mengeluhkan keadaannya baik kepada teman atau guru sekolahnya.

Kondisi ini diakui oleh kepala sekolah SMAN 1 Cimahi Doddy Sularto. Dia menceritakan, Inka adalah salah seorang siswi yang pintar, giat dan rajin bahkan berprestasi. Inka bahkan pernah mewakili Kota Cimahi di Olympiade Sains Nasional ditingkat provinsi.

Ia pun membenarkan, bahwa Inka masuk jalur undangan SNMPTN di Fakultas Kedokteran Unpad, karena Inka memang siswa yang berprestasi di SMAN 1 Cimahi.

“Kalau masalah finansial ia tidak pernah bercerita. Kami baru tahu kalau orang tuanya bekerja tukang gali kubur, tapi anaknya sama seperti siswa yang lain, semangat,” tutur Doddy (yan)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.