Hari Ini Salat Istisqa di Gasibu

32
IMAN MULYONO/JABAR EKSPRES MINTA HUJAN: Pemkot Bandung saat menggelar Salat Istisqa yang digelar di Balai Kota Bandung diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkungan Pemkot Bandung.
IMAN MULYONO/JABAR EKSPRES
MINTA HUJAN: Pemkot Bandung saat menggelar Salat Istisqa yang digelar di Balai Kota Bandung diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkungan Pemkot Bandung.

BANDUNG – Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat akan menggelar salat meminta hujan (istisqa) di Lapang Gasibu, Bandung, hari ini (16/10), pukul 07.30.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan kondisi sejumlah waduk di Jabar baik Jatiluhur maupun Cirata saat ini debit airnya terus menurun. Karena itu Gubernur Jabar Ridwan Kamil menurutnya mengambil sejumlah langkah-langkah penanganan.

”Pertama dengan melakukan ikhtiar lewat koordinasi dengan Pemerintah Pusat yaitu mendorong terjadinya hujan buatan. Kedua sebagai umat beriman kami mengimbau kepada Bupati, Wali Kota dan jajarannya untuk melakukan shalat memohon doa agar Allah menurunkan hujan,” kata Iwa di Gedung Sate, Bandung, kemarin (15/10).

ads

Iwa juga menyebutkan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar dan jajarannya terkait teknis pelaksanaan shalat. Selain itu dia juga memerintahkan Kepala Biro Pelayanan Sosial Setda Jabar untuk melakukan persiapan dimana panitia lokal shalat istisqa adalah DKM Al Muttaqien, Gedung Sate.

”Insyaallah shalat istisqa akan dilaksanakan besok pagi jam 07.30 WIB di Lapangan Gasibu. Saya meminta keiklasannya untuk seluruh ASN, masyarakat sekitar wilayah Gasibu dan karyawan Telkom, PT Pos untuk bersama-sama melaksanakan shalat istisqa,” paparnya.

Iwa berharap dengan digelarnya shalat secara serentak dan rekayasa cuaca bisa membuat waduk-waduk yang ada di Jabar bisa kembali dipenuhi air. Selain itu areal ladang dan persawahan bisa panen sesuai jadwal karena hujan mulai turun.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Oded M Danial mengaku mendapat sejumlah pesan dari warga Bandung yang terdampak kekeringan. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berinisiatif menggelar Salat Istisqa guna meminta hujan.

Salat Istisqa yang digelar di Balai Kota Bandung diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkungan Pemkot Bandung. Inisiatif menggelar Salat Istisqa dilakukan Oded setelah berkonsultasi dengan KH. Miftah Faridl sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bandung.

”Setelah konsultasi, malamnya langsung hujan. Kemarin diskusi lagi, apa mau dilanjut, ya lanjut saja. Mudah-mudahan dengan Salat Istisqa ini, Bandung diberikan hujan yang berkah,” kata Oded di Bandung, kemarin.

Dikatakan dia, permasalahan kekeringan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir tersebut membuat dirinya prihatin. Pasalnya, sejumlah warga terpaksa mengeluarkan uang tambahan untuk membeli air dengan harga variatif guna memenuhi keperluan sehari-hari.

Diungkapkan Oded, Kecamatan Cicendo mulai mengalami kekeringan sejak Mei 2018. Adapun di Kelurahan Cirangrang terjadi krisis air karena saluran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dalam beberapa bulan terakhir tidak mengalir.

”Saya minta ke PDAM agar mempersiapkan air bagi warga yang mengalami kekeringan meski debit terbatas. Kita juga akan upayakan kolam retensi dibangun seperi Citepus dan Gedebage,” kata dia.

Sementara memasuki musim penghujan, Oded mengimbau masyarakat bisa membuat sumur resapan air seperti yang dirinya lakukan dengan membuat sumur resapan sedalam 4 meter dan lebar 1,5 meter. Ketika hujan turun, lanjut Oded, maka air akan masuk ke dalam sumur resapan.

”Sampai sekarang tidak kekurangan air. Itulah prinsip bersyukur ketika mendapat anugerah air, simpan di rumah masing-masing caranya dengan pakai sumur resapan,” kata dia.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Bandung, Miftah Faridl menjelaskan, kemarau panjang menjadi pengingat bagi manusia agar tidak melupakan apalagi lupa menjaga alam. Menurutnya, dalam Al Qur’an dengan tegas disampaikan jika Allah memerintahkan umat muslim menjaga alam dengan baik.

Dijelaskan Miftah, alam merupakan tempat bagi air yang tersimpan dengan baik. Namun, dirinya menilai saat ini masyarakat cenderung lupa jika air dapat diselamatkan dari endapan tanah. Dia menyebut krisi air bisa menggugah seseorang untuk tetap memelihara air.

”Alquran berbicara tentang alam karena umat muslim tidak berpisah dengannya. Seperlima Alquran itu membahas tentang alam mulai dari bagaimana cara kita menyambutnya dengan salat. Bagi seorang muslim, salat itu penting,” kata dia.

Dikatakan Miftah, menghadapi kemarau yang terjadi penting disikapi dengan introspeksi diri agar mampu mendapat solusi. Apapun yang terjadi, kata dia, pasti mengandung hikmah dan manfaat. Dirinya menyatakan, jika rendah hati, pasrah dan ikhtiar harus dilakukan menghadapi setiap ujian

”Ujian itu bisa dalam bentuk kepahitan dan juga kenikmatan. Sebaiknya menambah kekuatan iman, persaudaraan dari berbagai musibah. Kita harus sadar, Allah maha kuasa. Di daerah lain pun bisa terjadi. Tinggal sekarang investasi apa yang akan dibawa ke kehidupan selanjutnya,” kata dia. (mg1/ign)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.