#GantiPresiden2019 Bikin Heboh

Debat Ke-2 Pilgub Jabar 2018

162
SALING SERANG: Pasangan calon Gubernur Jawa Barat Sudrajat-Ahmad Syaikhu saat memberikan pemaparan terkait persoalan lingkungan pada debat Publik Kedua Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 di Kampus Universitas Indonesia, Depok, kemarin (14/5).

DEPOK – Debat pamungkas pemilihan gubernur Jawa Barat 2018 pada segmen akhir berakhir gaduh, padahal sebelumnya tenang. Kejadian dipicu pernyataan penutup pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang tiba-tiba mengeluarkan kaos #2019GantiPresiden usai kalimat penutup.

Tak terima dengan adanya aksi provokasi tersebut, penonton bereaksi dengan mambalas seruan “Jokowi 2 Periode”. Suasana pun menjadi tidak tenang, bahkan moderator dan ketua KPU Jawa Barat sempat meminta para penonton untuk tetap tenang sampai akhir acara. Jika pun ada pelanggaran serahkan sepenuhnya pada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Barat.

Bahkan Tb Hasanuddin sempat turun tangan untuk menenangkan situasi, dia meminta simpatisan PDI Perjuangan untuk tetap tenang. ”Ini memang acara pemilihan gubernur, bukan pemilihan presiden. Tapi saya minta simpatisan PDI Perjuangan untuk tetap tenang, jika ada persoalan di luar pemilihan gubernur Jawa Barat, nanti yang menyelesaikannya Bawaslu Jabar,” kata Tb Hasanuddin.

Sejumlah kepolisian pun turut memberi pengamanan dengan memblokade antar paslon, hingga debat bisa dilanjutkan kembali.

Sesi sebelumnya meski sempat saling ‘serang’ antar paslon namun diakhir dengan berpelukan sehingga suasana tetap tenang. Pada debat ke-dua itu KPU mengangkat tema mengenai lingkungan hidup, sumber daya alam (SDA), energi dan pangan, pertanian, kelautan, kehutanan dan pertambangan.

Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut satu Ridwan Kamil mempertanyakan janji Calon Wakil Gubernur nomor urut empat, Deddy Mizwar, ketika Deddy berkampanye di Pilgub Jawa Barat 2013 lalu. Saat itu Deddy maju bersama Ahmad Heryawan dan berjanji air sungai Citarum bisa diminum pada 2018.

Deddy yang kini maju bersama Dedi Mulyadi, ditanya oleh Emil soal janjinya itu. ”Katanya 2018 bisa diminum, tapi kok bisa sampai sekarang presiden ambil alih manajemen pengelolaan Citarum,” kata Emil kepada Deddy di panggung debat Pilgub Jawa Barat, Kampus UI Depok, Senin (14/5).

Mendapat pertanyaan seperti itu, Deddy menyebut Emil kurang pengetahuan. Sebab menurut dia, pengelolaan Citarum merupakan tanggung jawab pemerintah pusat bukan pemerintah provinsi. ”Ini masalahnya adalah pengetahuan Anda yang kurang, badan sungai Citarum itu urusan pemerintah pusat, bukan provinsi,” kata Deddy menjawab tagihan Emil.

Membalas jawaban Deddy, Emil lantas menyinggung penggunaan dana sebesar Rp120 miliar dari dana APBD untuk program Citarum Bestari yang isinya adalah menjanjikan sungai Citarum bisa diminum tahun ini. ”Tapi ada dana 120 miliar untuk Citarum Bestari,” kata Emil

”Iya, dan sampah dari Bandung berkurang,” jawab Deddy, tetap menyanggah bahwa dirinya tidak bekerja membersihkan Citarum.

Emil tak habis akal. Merespons jawaban Deddy, Emil menyatakan bersihnya sungai Citarum tak sekedar kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat terdahulu. ”Itu karena Wali Kota Bandung kerjanya bagus,” kata Emil.

”Tapi banjir,” Deddy balas menyerang Emil. Debat keduanya pun berlangsung panas, Emil selalu menyanggah perkataan dari Deddy meski Deddy belum selesai bicara. Deddy pun menunjukan gesture tak terima dan ingin meninggalkan panggung debat.

”Saya tinggal nih, saya belum selesai ngomong disanggah mulu,” kata Deddy sembari berbalik membelakangi Emil.

Sementara itu, Jawa Barat menghadapi berbagai masalah kerusakan lingkungan dan sumber daya alam. Pada tahun 2010-2014, alih fungsi lahan pertanian naik 223 ribu hektare, sementara sawah menyusut hingga 73 ribu hektar.

Selain itu, bencana alam juga meningkat 523 kejadian di 2015 menjadi 1500 kejadian di tahun 2017. Sawah yang terkena banjir pun naik dari 11 ribu hektar di tahun 2012, menjadi 68 ribu hektar di tahun 2014. Emil mengatakan kerusakan lingkungan harus dikembalikan kepada kepatuhan dengan cara menerapkan rencana tata ruang wilayah yang sesuai dengan hukum.

“Yang kedua kita gunakan inovasi, kami pasangan Rindu punya konsep pertanian infus, menetesi tanaman, konversi lahan-lahan kering yang kekurangan air di Jabar Selatan sehingga menambahi 300 ribu lahan pertanian baru,” kata Ridwan Kamil dalam debat Pilgub Jabar putaran kedua di Balairung Universitas Indonesia, Senin (14/5/2018).

Sementara calon gubernur nomor urut dua TB Hasanuddin menekankan, ada empat poin yang harus diperhatikan dalam membenahi kerusakan lingkungan di Jawa Barat. “Yang pertama kami akan merehat [lingkungan] yang sudah hancur itu, dan mereklamasi semua daerah yang telah hancur, gundul itu akan kami hijaukan. Dan memperketat pemberian izin, kemudian menegakkan hukum secara tegas kepada siapapun, bahkan kami akan mencabut izin kepada mereka yang bandel karena merusak lingkungan,” ungkap Hasanuddin.

Selain itu, dia dan wakilnya Anton Charliyan juga akan melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh wilayah Jabar apabila terpilih menjadi pemimpin di Pilgub Jabar 2018 nanti.

Sungai Citarum juga menjadi pembahasan calon Gubernur-Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik). Dia mengaku prihatin atas kondisi lingkungan di Jawa Barat utamanya mengenai Sungai Citarum. Seperti diketahui bahwa Citarum berada di kategori IV (tercemar berat). Oleh karenanya pasangan ini akan akan memberikan perhatian khusus untuk Citarum.

“Kalau isu Citarum kita sangat prihatin. Citarum ini di-tagline sebagai sungai kelas D. Sungai yang terkotor itu nanti kita akan cari siasat-siasat bagaimana membereskan ini semua,” kata Sudrajat.

Menurutnya, untuk persoalan Sungai Citarum perlu koordinasi dengan pemerintah pusat. Hal itu dilakukan agar upaya yang dilakukan bisa efektif. “Daerah aliran sungai itu juga tanggung jawab dari pemerintah pusat sehingga program harus disinkronisasi dengan daerah dan pusat,” paparnya.

Dia mengaku berat untuk menormalisasi Citarum dalam waktu lima tahun ke depan. Namun, apabila ada gelontoran dana yang cukup besar, bisa saja hal itu terwujud. “Kedua, mendidik masyarakat itu sangat penting, sehingga lima tahun (normalisasi) agak berat tetapi paling tidak bisa dicapai sampai 50 persen,” jelasnya. (*/cnn/sin/ign)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.