Berikan Layanan Desain dan Cetak Kemasan

23
PENTINGNYA KEMASAN: Kepala UPTD Industri Pangan Olahan dan Kemasan (IPOK) Ellyn Setyairianti menjelaskan pelayanan Disperindag mengenai bantuan desain kemasan produk untuk pelaku usaha kecil skala rumah tangga.

BANDUNG – Jenis kemasan produk yang banyak di jumpai dipasaran terdapat sebanyak 45 persen berbentuk Flexible Packaging. Hal ini, disebabkan tingginya permintaan untuk segmen produk home care, kuliner, farmasi, snack and confectionery, fresh foods, frozen foods, dairy, beverages, ready meals, dan pet food.

Kepala Unit Pelayan Teknis Daerah (UPTD) Industri Pangan, Olahan dan Kemasan (IPOK), Ellyn Setyairianti mengatakan, permintaan flexible packaging tumbuh 9 persen sampai 10 persen per tahun untuk semua segmen.

Menurutnya, penggunaan flexible packaging untuk segmen beverages, dairy, serta home and personal care, didorong oleh perkembangan varian baru dari produk maupun desain kemasan.

Selai itu, kontribusi terbesar berikutnya disusul olehh kemasan dengan material paper board 29 persen, rigid plastic 15 persen, metal cans atau kaleng logam 4 persen, woven bag atau tas anyaman 4 persen, serta glass contain atau berbahan gelas 3 persen.

Baca Juga:  Kisah Direktur Akper yang Tinggal Satu Atap dengan Makam Istri

Ellyn menjelaskan, faktor yang mendorong industri kemasan menggunakan Fexible Packing adalah adanya meningkatnya kelas menengah Indonesia yang mengarah pada gaya hidup modern, sehingga berujung pada meningkatnya produk berkemasan kecil atau sachet makin disukai konsumen.

Selain itu, faktor lainnya pertumbuhnya pemasaran yang proaktif dengan menawarkan solusi kemasan inovatif. Sehingga, dengan kemasan menarik akan mendapatkan persaingan yang kompetitif dengan peningkatan kualitas produk.

Penggunaan Flexible Packaging karena adanya tuntutan dari aturan mengenai lingkungan hidup. Sehingga, kemasan ini dapat dilakukan daur ulang.

Kemasan juga seringkali disebut sebagai “the silent sales-man/girl” karena mewakili ketidak hadiran pelayan dalam menunjukkan kualitas produk.

Untuk itu, kemasan harus mampu menyampaikan pesan lewat komunikasi informatif, seperti halnya komunikasi antara penjual dengan pembeli.

Baca Juga:  Gomez Tetap Hati-Hati

Para pakar pemasaran menyebut desain kemasan sebagai pesona produk (the product charm), sebab kemasan memang berada di tingkat akhir suatu proses alur produksi yang tidak saja untuk memikat mata (eye-cathing) tetapi juga untuk memikat pemakaian (usage attractiveness).

Tampilan kemasan tidak lepas dari perkembangan jaman. Misalnya kemasan untuk individu, disesuaikan dengan jumlah suatu keluarga yang makin sedikit. Bahkan, orang-orang kota lebih menyukai kemasan yang praktis, mudah dibuka, disimpan dan gampang dihangatkan dengan microwave.

Ellyn menilai, bila melihat produk-produk IKM di pasaran, banyak yang sudah menampilkan kaidah kemasan. Bahkan, tidak terbatas pada kemasan sebagai pembungkus dan pelindung produk saja, tapi sudah disertai dengan estetika.

Kendati begitu, untuk industri kecil pangan skala rumah tangga,
Masih banyak ditemui kekurangan dalam membuat kemasan. Sehingga, produk tersebut dipasarkan apa adanya.

Baca Juga:  Paslon Nurul-Ruli Disebut Hanya Pandai Mengkritik

Untuk itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar memiliki unit pelayanan yang siap membantu mendesain kemasan khusus untuk industri kecil skala rumah tangga.

“ Pelayanan pengembangan industri kemasan ini beralamay di Jalan Parabon III no 1 Kota Bandung dengan tenaga desain 4 orang, siap membantu memebrikan ide desain kemasan,”ucap dia.

Ellyn menambahkan, pihaknya juga menyedikan contoh kemasan 60 produk makanan dan minuman yang dapat diaplikasikan ke produk milik masyarakat.

Sedangkan untuk prosedur pengajuan cetak kemasan harus sudah memiliki sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal.

’’ Jadi selain menarik harus diperhatikan adalah keamanan pemakaian bahan dan keamanan konsumen,” jelas Ellyn (rls/yan)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here