Bentengi Diri Keluarga dengan Ilmu Agama

Tolak Keberadaan LGBT

34

SOREANG – Keberadaan Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Sebab, dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi LGBT semakin menunjukan eksistensinya di dunia maya maupun nyata.

Menyikapi hal tersebut, Bupati Bandung Dadang M. Naser mengaku, menolak keras keberadaan LGBT di wilayah Kabupaten Bandung. Sehingga, jika benar ada, keberadaannya harus ditelusuri dan diberikan pembinaan dan edukasi.

BERIKAN SEMANGAT: Bupati M. Dadang Naser beserta istri Kurnia Agustina mengunjungi sekolah untuk
memberikan motivasi dan himbauan mengenai bahaya narkoba dan pengaruh LGBT pada siswa.
Dia dengan tegas menginstruksikan, jajarannya untuk mamantau pergaulan dan kegiatan diseluruh wilayah pemukiman masyarakat, ataupun lingkungan lainnya seperti instansi pendidikan. Terlebih, jika benar ada gelagat atau indikasi yang mengarah pada penyimpangan perilaku maka segera laporkan.

“Saya khawatir jika LGBT ini bisa masuk ke lingkungan pedesaan atau di kalangan pelajar. Oleh karena itu, Saya mengimbau pemerintah kecamatan maupun desa agar terus berkoordinasi dengan Muspika untuk mencegah dan melarang kegiatan-kegiatan yang menyimpang di wilayahnya,”jelas Dadang ketika ditemui kemarin. (19/10)

Selain itu, untuk membatasi perkembangannya pihaknya sudah menginstruksikan Dinas Pendidikan (Disdik) agar berkoordinasi dengan Polres Bandung untuk memantau akun medsos yang sedang ramai digunakan pelajar, serta segera mengevaluasi sekolah-sekolah yang dicurigai ada LGBT.

Dadang menghimbah, para orangtua harus memberikan pengetahuan dan perhatian kepada anak anaknya dengan memberi pendidikan keagamaan. Sebab, rumah adalah lembaga pendidikan pertama bagi anak-anak.

’’Jika anak-anak kita paham tentang agama, mereka bisa memilih mana orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan mana yang memiliki dampak negatif bagi hidup mereka,” imbuhnya.

Dadang menegaskan, apabila menemukan komunitas atau grup yang dirasa janggal segera laporkan kepada pihak berwajib, jangan sampai anak-anak kita terjebak dalam pergaulan yang salah, yang bisa merusak masa depan mereka.

Semntara, Wakil Bupati (Wabup) Bandung H. Gun Gun Gunawan pun menyatakan keprihatinannya terhadap informasi LGBT yang tengah marak tersebut.

Dia menyebut, apapun bentuk aktivitas yang tidak sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dengan syariat agama harus dicegah dan dilarang dengan tegas.

Untuk itu, dia meminta, masyarakat harus segera melaporkan segala bentuk penyimpangan kepada pihak terkait. Aparat setempat baik RT, RW, kepala desa, kecamatan, muspika, MUI terus berkoordinasi dan bekerjasama, sehingga bilamana ada aktivitas yang meresahkan dan bahkan ada yang memfasilitasi, segera ditindak.

Gun Gun Gunawan menambahkan, para orangtua diimbau untuk menjaga seluruh anggota keluarganya. Memberikan edukasi bahwa perilaku LGBT tidak dibenarkan dalam agama manapun, termasuk dalam ajaran Agama Islam.

“Bentengi anggota keluarga kita dengan ilmu agama, akhlak dan perilaku yang baik. Berikan pemahaman bahwa LGBT ini tidak dibenarkan, khususnya dari segi syariat agama. Dampak dan sanksinya juga sudah jelas diterangkan dalam Al Qur’an,” tandas Gun Gun.

Sementara itu, Ketua Mui bidang hubungan antar umat beragama, Eri Ridwan Latief mengungkapkan, LGBT merupakan satu langkah mundur dari aspek kemanusiaan, karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk berpasangan.

Menurutnya, dari aspek kaidah hukum ada beberapa pemahaman di Islam. Yakni imam Hanafi menggambarkan bahwa LGBT harus di bunuh, dan Imam Safei menyatakan bahwa LGBT harus dibina.

“LGBT dalam pemandangan saya yaitu harus dikasihani, pasalnya LGBT harus di obati, dan pengobatan terhadap yang mengidap LGBT harus serius karena orang sakit. Namun LGBT dalam hukum positif LGBT tidak kena pidana, tapi ingat Pancasila itu ada ketuhanan yang maha esa,” ungkap Eri.

Eri menerangkan, secara hukum diperbolehkan tapi secara asas Ketata negaraan kaum LGBT harus keluar dari Indonesia karena melanggar ketuhanan. Sebab, LGBT bukan persoalan biasa tapi sudah luar biasa.

“Memang dalam hukum positif belum diatur, bukan tidak ada namun belum diatur, karena negara ini tidak berdasarkan agama tapi negara ini berdasarkan ketuhanan yang maha esa, artinya pelanggaran dari hukum hukum Tuhan maka itu merupakan kesalahan total, penghianatan terhadap dasar negara,” terangnya. (yul/yan)

~ads~
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.