Oded: Teu Jaman Make Preman

98
Oded M. Danial, Wakil Wali Kota Bandung

jabarekspres.com, BANDUNG – Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial mengaku kecewa dengan adanya premanisme di kawasan Tamansari. Konon premanisme itu ditunjuk pihak ketiga untuk proses ‘pengamanan’ pembangunan rumah deret.

”Sudah bukan jamannya atuh kaya gitu (menggunakan premanisme, Red.),” kata Oded saat ditemui Pewarta di Balaikota Bandung, kemarin (6/12).

Menurut pendapat Oded sudah seharusnya tidak ada hal hal yang menggunakan premanisme. Apalagi kota Bandung sendiri memiliki lapisan pengamanan yang bertingkat mulai dari tingkat RT hingga kecamatan. ”Kan bisa memanfaatkan Linmas,” sarannya.

Terkait kejadian itu, rencananya Wakil Wali Kota Bandung bakal segera memanggil kepala dinas terkait, sebab seharusnya pembangunan rumah deret dihentikan sementara sampai ada kesepakatan antara Pemerintah Kota Bandung dengan warga sekitar. ”Saya akan segera panggil Pa Arief nya (Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman Prasarana Sarana Utilitas Pertanahan dan Pertamanan, Arief Prasetya, Red),” tandas Oded.

Perlakuan kurang mengenakan juga diterima wartawan foto yang akan melakukan pengambilan gambar di lokasi itu. Seorang preman dengan bau alcohol dari mulutnya menegur dia. ”Tong ngacak-ngacak dapur urang mun embung dapur maneh diacak-cak (jangan merusak dapur saya, jika tidak mau dapur kamu saya rusak),” bentaknya.

Tak hanya wali kota Bandung Oded M Danial yang mengaku kecewa dengan adanya aksi premanisme tersebut, warga RW 11 pun mengaku sama. Padahal sebut mereka sesuai dengan kesepakatan anrtara Wali Kota Bandung Ridwan Kamil proyek tersebut seharusnya kudu dihentikan untuk sementara.

Menurut Eva Eryani Efendi, sekretaris RW 11 membenarkan jika sebelumnya pihak warga sudah melakukan pertemuan dengan Ridwan Kamil pada 6 November 2017. Dalam pertemuan tersebut, dikatakan Eva kedua pihak sepakat proyek tersebut dihentikan sampai ada kesepakatan lanjutan. Sayangnya pada 1 Desember malam, justru warga dikagetkan dengan kedatangan sejumlah pekerja yang mengaku akan menggarap proyek itu.

Pada Sabtu siang sejumlah alat berat pun sudah terpasang disebuah rumah, yang warganya sudah sepakat untuk digusur. Eva sempat datang ke lokasi itu dan menanyakan apakah kedatangan pekerja dan alat berat itu sudah berizin atau tidak. Namun, setelah menunggu ternyata mereka tidak dapat menunjukannya. Anehnya, justru proyek pengeboran terus berlangung dan membuat warganya panik. ”Kehadiran alat berat yang tanpa izin, jelas membuat warga kami panik,” ungkapnya.

Eva bersikeras jika apa yang dilakukan para pengembang itu sudah melanggar kesepakatan. Dia berharap pemerintah Kota Bandung untuk segera dapat mengatasi hal itu, dan kembali ke perjanjian awal pada 6 November 2017. (pan/ign)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here