Disperindag Jamin Stok Gas Aman

Gas 3 Kg Sulit Ditemukan Di Pangkalan

13
AMRI RACHMAN DZULFIKRI/BANDUNG EKSPRES
Kelangkaan gas elpiji 3kg mulai terjadi lagi di beberapa daerah di Bandung Raya

jabarekspres.com, SOREANG – Keberadaan gas 3 Kilogram bersubsidi di Kabupaten Bandung saat ini kondisinya sulit dicari. Hal ini, terbukti dengan banyaknya keluhan masyarakat setempat yang menanyakan gas 3 Kilogram dibeberapa tempat penyalur gas.

Berdasarkan pantauan Jabar Ekspres, kebeberapa Agen penyalur keberadaan Gas 3 Kilogram mengalami kelangkaan. Sebab, berdasarkan keterangan yang dihimpun, hal ini terjadi karena pasokan Gas dari distributor resmi mengalami keterlambatan pengiriman.

Salah satu agen penyalur di Jalan Raya Margaasih tidak ada aktivitas suplai gas. Sehingga, tingginya permintaan gas yang dikenal dengan Melon ini, mengaku kewalahan untuk memenuhi permintaan warga.

“Gas 3 Kilogram kalau tersedia langsung ludes hanya dalam satu hari,”jelas Junaedi salah satu pegawai yang bekerja disalah satu penyalur Gas.

Sementara itu, Nining, 45, mengaku kesulitan untuk mencari Gas 3 Kilogram tersebut. Bahkan kelangkaan sudah terjadi selama satu bulan lalu. Malah, harga jual Gas Melon sekaran mencapai Rp 25 ribu dari harga yang ditetapkan sebesar 16 ribu.

Ketika di konfirmasi terkait ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Popi Hopipah membantah terjadi kelangkaan Gas 3 Kilogram. Sebab, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan PT Migas. Sehingga aman dari kekurangan.

“Pihak Migas telah menambah kuota 100 persen untuk persiapan Natal dan tahun baru,”ucap Popi.

Meskipun dilapangan sudah terjadi kelangkaan, dirinya meyakinkan bahwa untuk Kabupaten Bandung aman dari kekurangan gas 3 kilogram. Karena, sudah ada penambahan.

Sementara untuk harga eceran yang tembus sampai Rp 25 ribu, dia mengakui sulit untuk mengendalikan. Namun, untuk harga dipangkalan dijamin masih stabil Rp 16.800.

Popi menambahkan, untuk 2018 mendatang, gas 3 kilogram hanya diperuntukkan untuk masyarakat miskin, dan nantinya, masyarakat miskin diberi kartu untuk pembelian gas tersebut dengan cara penggesekan. Sehingga, masyarakat yang mampu tidak akan diberi gas bersubsidi tersebut.

“Kartu itu akan dikeluarkan oleh Dinas Sosial, karena data-datanya semua ada di dinas sosial. Sehingga untuk masyarakat yang mampu lebih baik dari sekarang beli gas 5 kilogram atau 12 kilogram,” pungkasnya. (yul/yan)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here