Ary Buktikan Keterbatasan Fisik Bukan Hambatan

Satu-satunya Siswa Berkebutuhan Khusus di Pasanggiri Degung

81

Keterbatasan fisik bukan hambatan bagi siapapun. Asalkan mempunyai kemauan dan tekad yang kuat, semua pasti bisa dilakukan tanpa harus bergantung pada orang lain. Dan Ary Nurul Fazri, 17, membuktikan hal itu saat ikut dalam Pasanggiri Degung di Gedung Rumentangsiang, baru-baru ini.

Iman Mulyono, Kota Bandung

Ary Nurul Fazri
TETAP PEDE: Ary Nurul Fazri ditemani ibunya.

Meski sejak lahir tak mampu melihat, Ary Nurul Fazri tetap enggan diistimewakan. Dia yakin, indra pendengarannya bisa diandalkan. Dia pun yakin, bisa mengendalikan keadaan kendati menjadi satu-satunya pelajar tuna netra yang bersaing dalam Pasanggiri Seni Degung Piala R.A.A Wiranata Kusumah yang diselenggarakan Balai Taman Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat bersama Institut Seni dan Budaya (ISBI) Bandung, 4-5 November 2017.

Ary mengenakan pangsi hijau, tampak serasi bersama siswa lain dari Sekolah Menengah Kejuruan Bumi Nurani Ciamis (SMK BeNC). Saat itu, bersama grup degung sekolahnya, dia mendapatkan urutan pentas nomor 13.

”Hanya tekun belajar dan berlatih saja,” kata Ary kepada Jabar Ekspres saat ditanya resep dia untuk mengikuti Pasanggiri Degung saat itu.

Meski rendah hati, jangan tanya soal kemampuan dia dalam menguasai alat musik kasundaan. Kendati hanya mengandalkan pendengaran, dia bisa menguasai tiga alat musik tradisional yakni kendang, kecapi dan saron.

Dengan kemampuannya itu, Ary Cs lantas bersaing dengan 27 grup degung tingkat Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/K) dari 27 kabupaten‎/kota se-Jawa Barat. ”Belajar degung selama satu tahun. Awalnya dari latihan dengan pendengaran. Sekarang bisa tiga alat musik (kendang, kecapi, saron)‎,” ujar Ary.

Kejuaraan itu sendiri, sebenarnya bukan kali pertama bagi Ary unjuk bakatnya dalam bermain musik. Sebelumnya saat bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) di kawasan Ciamis, anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut  juga pernah mengikuti perlombaan lain baik di tingkat daerah maupun nasional. Tentunya dengan berbagai prestasi yang dia raih.

‎”Waktu di SLB mah juara lomba nyanyi tingkat Jawa Barat juara ketiga, juara nasional alat musik juara ketiga‎ juga,” ucap Nani Suryani, 51, ibunda Ary saat mendampingi Ary sebelum perlombaan dimulai.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan ‎Bumi Nurani Ciamis (BeNC) Elih Sudiapermana mengungkapkan, SMK BeNC sebagai sekolah berbasis Seni dan Industri Kreatif yang baru berdiri dua tahun, mendorong siswa-siswinya dalam memperoleh pengalaman baik di dalam maupun di luar sekolah.

Pria yang menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung itu berharap, ajang perlombaan Pasanggiri Degung tersebut bisa menjadi tempat bagi remaja-remaja lainnya seperti Ary yang memiliki kebutuhan‎ khusus agar mendapat pengakuan dari luar‎ dengan bakat dan talenta yang dimilikinya.

”Untuk Ary yang punya talenta baik, itu mereka bisa diperlihatkan keahliannya dan mohon dukungan dari publik bahwa SMK ini (BeNC) ingin punya dedikasi khususnya di dalam pelestarian seni budaya Sunda,” kata Elih.

Yang tidak kalah penting, kata dia, Ary adalah sebagian kecil siswa saat yang rawan melanjutkan sekolah namun memiliki semangat ingin belajar, melestarikan dan mengembangkan seni musik dan tradisi dengan khas Sunda. ”Sehingga mereka dibebaskan dari pembiayaan,” tegas Elih.

Oleh karena itu, Elih juga mengimbau, semua pihak yang peduli pada regenerasi seni budaya Sunda untuk berkolaborasi dalam pembinaan SMK ini.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, dari waktu ke waktu seni degung mengalami perkembangan dan pergeseran dalam bentuk penyajiannya.  Di era tahun 70-an, seni degung berkembang dengan sebutan degung kawih. Namun, lagu-lagu klasik khas seni degung masih tetap dibawakan di dalam satu pergelarannya.

”Masa puncak keemasan seni degung kawih berlangsung sampai dengan tahun 1980 hingga 1990 an. Di era ini muncul sosok tokoh seniman kreatif Nano S,” jelas Deddy seusai membuka acara tersebut.

Deddy menuturkan, seniman Sunda yang memiliki andil besar dalam perjalanan Seni Degung adalah kangjeng RAA Wiranata Kusumah ke-V. Saat itu, dia menjabat sebagai Bupati Bandung. Kecintaannya dan rasa memiliki yang kuat terhadap seni degung sejak 1950 hingga 1960. Pada masa tersebut, dianggap sebagai tahun keemasan seni degung mengalami perkembangan yang luar biasa bahkan dapat disebutkan bahwa pada waktu itu merupakan masa keemasan seni degung klasik.

Seni degung, lanjutnya, ditampilkan di dalam berbagai kegiatan mulai dari perhelatan yang dilaksanakan pemerintah hingga hajatan yang dilaksanakan masyarakat seperti upacara adat budaya, pernikahan, khitanan, seni degung selalu ditampilkan.

Di masa itu, tokoh seni yang sangat populer adalah Entjar Carmedi dan Juju Sain. Saat itu, seni degung ditampilkan dalan bentuk instrumental dengan lagu-lagu yang khas. Di antaranya lagu Pajajaran, Galatik dan Bima Mobos.

Deddy mengatakan perjalanan panjang seni degung mengalami penurunan dan hampir tidak ditemukan lagi hasil kreativitas para seniman. Berjalan seiring waktu dan zaman seni degung kian meredup. Bahkan hingga saat ini hampir tidak ditemukan lagi seni degung yang manggung di berbagai even.

Melihat kondisi tersebut, Deddy menjelaskan, pemerintah Provinsi Jawa Barat, dalam hal ini Balai Pengelolaan Taman Budaya Disparbud Jabar, mencoba untuk melakukan berbagai upaya agar seni degung tetap lestari. Bahkan mampu berkembang seiring zaman. ”Dengan begitu, kami berharap kesenian ini dikenal masyarakat dan mampu menarik minat generasi muda untuk mencintai seni degung,” harapnya.

Deddy menambahkan, di sisi lain perkembangan di era industri kreatif atau ekonomi kreatif yang merupakan gelombang keempat pembangunan ekonomi setelah pertanian, industri dan teknologi informasi. Selain itu, UNESCO telah lama berjuang agar industri kreatif berbasis seni dan budaya menjadi motor penggerak dari pembangunan berkelanjutan. (*/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here