Sekolah Islam Cendekia Muda Nyalakan Solidaritas Kemanusiaan Lewat Echoes of Hope

Sekolah Islam Cendekia Muda Nyalakan Solidaritas Kemanusiaan Lewat Echoes of Hope
Penampilan panggung Echoes of hope.
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Panggung seni mendadak berubah menjadi lautan haru dan semangat membara. Sekolah Islam Cendekia Muda sukses menggelar Pertunjukan Besar (PB) bertajuk “Echoes of Hope”. Yaitu sebuah perhelatan akbar yang memadukan drama musikal, seni, dan misi kemanusiaan untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Setelah vakum selama sekitar tujuh tahun akibat pandemi dan berbagai tantangan, kegiatan rutin tahunan ini kembali bangkit dengan skala yang masif. Sebagaimana yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesha, Sabtu (7/11/2026).

Mengusung tema kemanusiaan global, acara ini tidak hanya menjadi ruang unjuk bakat bagi para siswa, tetapi juga wadah nyata untuk menyuarakan keadilan bagi rakyat Palestina yang telah menderita selama lebih dari 70 tahun di bawah rezim.

Baca Juga:Tak Mudah Luntur dan Kaya Antioksidan, Peneliti POLSUB Sulap Buah Angkung Merah Jadi Pewarna Pangan AlamiAntusias Membludak, Tiket Final DBL Jakarta di Indonesia Sold Out Kurang dari 2 Hari

Pertunjukan ini melibatkan hampir 400 murid dari berbagai jenjang pendidikan di Sekolah Islam Cendekia Muda. Persiapan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan ini digarap secara serius oleh tim artistik profesional di bawah arahan Sutradara Ahmad Gagah Gatuso dan Astrada Ulfah Haldha T.

Tak tanggung-tanggung, acara ini turut menghadirkan sejumlah public figure sebagai bintang tamu spesial. Musisi Dodi Hidayatullah membawakan lagu-lagu bertema perjuangan Palestina, artis Anisa Rahma memukau penonton lewat pembacaan puisi karya sastrawan besar Mahmoud Darwish, sementara aktivis dan seniman Annisa Theresia Pardede (Tere) membawakan monolog tajam yang membakar semangat audiens untuk terus membela kemanusiaan.

Sutradara Ahmad Gagah Gatuso mengungkapkan bahwa pemilihan tema Palestina didasari oleh panggilan moral dan kemanusiaan universal. Menurutnya, pementasan ini mengangkat kisah nyata dari apa yang dialami rakyat biasa di Gaza.

“Kamilah yang merasa terhormat dan terpilih dalam membawakan cerita ini, cerita dari kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi dan menjadi realita sehari-hari bagi rakyat Palestina. Kami berharap drama ini bisa membuka kembali hati yang sempat lupa, bahwa saudara-saudara kita di sana butuh suara kita,” tegas Ahmad.

Senada dengan hal tersebut, Astrada Ulfah Haldha T menambahkan bahwa kepedulian terhadap Palestina bukan sekadar rasa iba sesaat, melainkan bagian dari fondasi keimanan dan tanggung jawab moral sebagai sesama manusia dan umat Islam yang memiliki ikatan historis melalui Masjid Al-Aqsha.

0 Komentar