JABAR EKSPRES – Fenomena umbalan atau naiknya massa air dari dasar waduk diduga menjadi penyebab kematian 22,12 ton ikan di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Peristiwa kematian massal ikan tersebut terjadi selama tiga hari, mulai 31 Oktober hingga 2 November 2026. Dampaknya dirasakan sejumlah pembudidaya ikan yang mengelola Keramba Jaring Apung (KJA) di kawasan waduk tersebut.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti, menyebut kematian ikan diduga berkaitan dengan penurunan kualitas air yang dipengaruhi cuaca ekstrem dan fenomena umbalan.
Baca Juga:Politeknik Al Islam Bandung Gelar Pelatihan PPR Radiologi Konvensional Gelombang KeduaSiswa Belajar di Teras akibat Kelas Ambruk, Kapolres Tasikmalaya Langsung Turun Tangan
“Fenomena upwelling ini menyebabkan massa air dari dasar waduk naik ke permukaan sehingga berpengaruh terhadap kualitas air dan ketersediaan oksigen bagi ikan,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Kondisi tersebut berpotensi membawa zat hasil penguraian bahan organik dari dasar waduk yang dapat memperburuk kualitas perairan.
Berdasarkan pendataan Dispernakan KBB, wilayah Blok Ugrem, Kecamatan Cililin, menjadi lokasi dengan jumlah kematian ikan terbanyak, yakni mencapai 15 ton.
Sementara itu, kematian ikan di Blok Cikadu tercatat 3 ton, Blok Bongas 2 ton, dan Blok Balong 2 ton. Adapun di Blok Pakuwon, Desa Jati, sekitar 50 kilogram, Blok Cijati, Desa Saguling, 30 kilogram, serta Blok Mariuk, Desa Girimukti, sebanyak 40 kilogram.
Wiwin mengatakan, total ikan yang mati berdasarkan laporan yang dihimpun mencapai 22,12 ton. Kondisi tersebut tentu berdampak terhadap aktivitas usaha dan pendapatan para pembudidaya ikan.
“Peristiwa ini tentunya berdampak besar terhadap kerugian ekonomi para pembudidaya. Total laporan yang diterima itu 22,12 ton ikan yang mati karena upwelling,” kata Wiwin.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Dispernakan KBB mengimbau para pembudidaya segera mengangkat bangkai ikan dari keramba agar tidak semakin memperburuk kualitas air.
Baca Juga:Pengendara Tertib di Tasikmalaya Dapat Hadiah Kupat Tahu MangunrejaJenderal Listyo Sigit Ditetapkan Sebagai Tersangka Skandal Penyadapan Ilegal Presiden
Pembudidaya juga diminta memisahkan ikan yang masih hidup dan melakukan panen lebih awal apabila kondisinya memungkinkan.
Selain itu, pemberian pakan perlu disesuaikan dengan kondisi perairan. Saat terjadi fenomena umbalan, pemberian pakan disarankan dihentikan sementara guna mengurangi beban pencemaran air.
Dispernakan juga mengingatkan pembudidaya agar memperhatikan kepadatan ikan dalam keramba serta melakukan langkah antisipasi, termasuk penggunaan aerasi apabila memungkinkan.
