JABAR EKSPRES — Kesejahteraan keluarga anak dengan Cerebral Palsy (CP) membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari penguatan kesehatan mental, ketahanan pengasuhan, hingga kemandirian ekonomi. Psikologi positif dan pemberdayaan keluarga menjadi pendekatan penting untuk membantu orang tua menghadapi tantangan pengasuhan sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
Perspektif tersebut mengemuka dalam Talkshow dan Workshop bertajuk “Manajemen Stres: Hasil Karya dan Mendatangkan Cuan” yang diselenggarakan Rumah Cerebral Palsy (RCP) Betacici di Pakuwon Mall Bekasi, 28 Juli 2026.
Kegiatan yang bekerja sama dengan Komunitas TDA Bekasi dalam rangka Pesta Wirausaha Bekasi 2026 ini diikuti 60 pendaftar. Program tersebut memadukan edukasi pengelolaan stres, penguatan interaksi keluarga, serta pengembangan keterampilan produktif yang berpotensi membuka peluang ekonomi.
Baca Juga:Antusias Membludak, Tiket Final DBL Jakarta di Indonesia Sold Out Kurang dari 2 HariDorong Pajak Pembalut 0 Persen, Said Iqbal Tegaskan Ini Kebutuhan Dasar Perempuan
VP Growth and Partnership PT Martasandy Psychology Indonesia, Diaan Rahmawati, menyoroti pentingnya psikologi positif dalam mendukung kesejahteraan orang tua yang mendampingi anak dengan CP.
Menurut Diaan, orang tua perlu memiliki ruang untuk mengenali kekuatan diri, menjaga kesehatan psikologis, dan membangun dukungan sosial agar mampu menghadapi berbagai tantangan pengasuhan.
“Pengasuhan anak dengan Cerebral Palsy membutuhkan ketahanan emosional yang kuat. Karena itu, orang tua juga perlu mendapatkan perhatian dan dukungan. Ketika mereka mampu mengelola stres, merawat diri, dan membangun komunikasi yang sehat, suasana keluarga yang lebih positif dapat tercipta,” ujar Diaan.
Ia menjelaskan, psikologi positif tidak hanya berfokus pada tekanan dan kesulitan yang dihadapi keluarga, tetapi juga pada potensi, kekuatan, dan kemampuan yang dapat dikembangkan.
Melalui pendekatan tersebut, keluarga diharapkan mampu membangun pola pengasuhan yang lebih adaptif, menjaga hubungan yang sehat, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Director PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, menekankan bahwa kesejahteraan keluarga juga berkaitan erat dengan kemampuan ekonomi. Menurutnya, pemberdayaan keluarga perlu membuka ruang bagi orang tua untuk mengembangkan keterampilan dan memperoleh peluang produktif yang sesuai dengan kondisi mereka.
“Dukungan terhadap keluarga anak dengan Cerebral Palsy tidak cukup hanya dari sisi psikologis. Keluarga juga perlu memiliki kesempatan untuk berkarya, mengembangkan keterampilan, dan memperoleh penghasilan. Kemandirian ekonomi dapat membantu memperkuat ketahanan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas hidup,” kata Billy.
