Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis adanya sejumlah fenomena atmosfer yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif dan curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Pada pertengahan pekan ini, fenomena gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin diprakirakan aktif secara spasial di wilayah Jawa Barat. Kondisi tersebut turut mendukung proses pembentukan awan hujan.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetia, mengatakan bahwa selain aktivitas gelombang atmosfer, suhu muka laut yang relatif hangat juga berperan dalam menyuplai uap air ke wilayah Jawa Barat.
Baca Juga:Soal Eks Setda Jadi Potensi PAD, Bupati Cecep : Tidak Mendadak dan Penuh PertimbanganJingle Catchy, Dance Seru Bikin Kolaborasi no na x Shopee Makin Viral
“Pertumbuhan awan konvektif pada skala lokal didukung oleh labilitas atmosfer pada kategori ringan hingga kuat,” katanya melalui pesan yang diterima Jabar Ekspres, Selasa (3/11/2026).
Rakhmat menjelaskan, secara umum sebagian wilayah Jawa Barat berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan. Namun, sejumlah daerah perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang.
Cuaca ekstrem tersebut berpotensi terjadi secara lokal dengan durasi relatif singkat. Berikut wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan:
- Selasa, 3 November 2026: Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, serta Kabupaten Pangandaran.
- Rabu, 4 November 2026: Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, serta Kabupaten Garut.
- Kamis, 5 November 2026: Kabupaten Sukabumi.
- Jumat hingga Minggu, 6–8 November 2026: Tidak terdapat wilayah yang masuk dalam daftar potensi hujan sedang hingga lebat.
Lebih lanjut, Rakhmat mengimbau masyarakat dan instansi terkait agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Pasalnya, kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologis, mulai dari hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
“Tetap tenang, namun siaga. Kenali risiko di lingkungan sekitar, serta selalu perbarui informasi cuaca dan ikuti arahan maupun protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika merencanakan berbagai aktivitas, terutama perjalanan melalui jalur darat, laut, maupun udara.
