Cegah Kerugian Pembudidaya, Dispernakan KBB Ingatkan Potensi Umbalan

KJA di perairan Waduk Saguling, Bandung Barat. Dok istimewa
KJA di perairan Waduk Saguling, Bandung Barat. Dok istimewa
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pembudidaya ikan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi umbalan atau upwelling di perairan umum, terutama waduk dan danau, saat memasuki masa peralihan musim.

Fenomena tersebut dapat memicu perubahan kualitas air dan menurunkan kadar oksigen terlarut. Kondisi ini berisiko menyebabkan ikan mengalami stres hingga mati secara massal, terutama pada usaha budidaya yang menggunakan keramba jaring apung (KJA).

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti, mengatakan pihaknya telah menerbitkan surat imbauan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi potensi kejadian tersebut.

Baca Juga:Aneka Bencana Mengancam Tasik, TAGANA Bekali Linmas Pengetahuan PenanggulanganKisah Perjuangan Santri Cipasung Lahirkan UU Pesantren  

“Pembudidaya ikan, khususnya yang menjalankan usaha di keramba jaring apung, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dan kondisi perairan. Langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini untuk meminimalkan risiko kematian ikan secara massal,” kata Wiwin, Jumat (23/10/2026).

Surat imbauan bernomor 500.5.3/3593/Dispernakan/2026 tertanggal 9 Oktober 2026 itu diterbitkan sebagai tindak lanjut atas surat Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan bernomor B.2832/DJPB.2/PB.220/X/2026.

Umbalan merupakan fenomena pergerakan massa air dari lapisan bawah menuju permukaan. Peristiwa ini dapat membawa air dengan kondisi berbeda, termasuk kandungan oksigen yang rendah, sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan perairan dan kehidupan ikan.

“Penyesuaian kepadatan ikan, pengaturan pemberian pakan, dan penambahan aerasi apabila memungkinkan merupakan langkah yang perlu dipertimbangkan pembudidaya untuk mengurangi risiko saat kondisi perairan tidak mendukung,” demikian imbauan Dispernakan KBB.

Risiko tersebut perlu menjadi perhatian serius bagi pembudidaya yang menggantungkan usahanya pada kondisi perairan waduk. Perubahan kualitas air yang terjadi dalam waktu singkat dapat berdampak terhadap kesehatan ikan dan meningkatkan potensi kerugian ekonomi.

Untuk mengurangi risiko, pembudidaya diimbau memantau perubahan cuaca serta kondisi air di sekitar lokasi budidaya. Langkah antisipasi juga perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kepadatan ikan dan kondisi lingkungan perairan.

Dispernakan turut mendorong koordinasi antara pemerintah daerah, penyuluh perikanan, pengelola perairan, dan kelompok pembudidaya. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memperkuat penyampaian informasi mengenai potensi perubahan kondisi perairan agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih awal.

0 Komentar