Jaring Diplomasi yang Teruji di Selat Hormuz

SELAT HORMUZ
Presiden Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi (kiri) usai menyampaikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar/am.
0 Komentar

Gibran juga mengemban satu penugasan di panggung global. Pada 22-23 November 2025, ia mewakili Presiden di KTT G20 Johannesburg, Afrika Selatan. Isu yang ia bawa ke sana adalah isu yang ia telisik di daerah, yakni ketahanan pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan ketangguhan menghadapi bencana. Ia juga membahas kecerdasan artifisial dan mineral kritis. Sepulangnya, ia langsung melaporkan hasil forum itu kepada Presiden di Istana Merdeka.

Pembagian kerja tersebut menjelaskan mengapa diplomasi dua tahun ini mampu bergerak lincah. Satu pihak menganyam simpul di mancanegara. Pihak lain memastikan program yang ditawarkan kepada dunia sungguh berjalan di dalam negeri.

Pekerjaan berikutnya tidak lebih ringan. IEU-CEPA masih menanti ratifikasi dan regulasi turunan sebelum berlaku pada 2027. Sejumlah kalangan menyoroti jarak antara nilai nota kesepahaman yang diteken di luar negeri dan realisasi modal yang benar-benar masuk.

Baca Juga:RUU Pemilu: Apa yang sedang dipertaruhkan di DPR?Berawal dari Jualan Gorengan, Rahmat Kini Kembangkan Warung Sembako Berkat KUR BRI

Catatan itu sekaligus menggariskan tugas tahun ketiga, yaitu mengubah simpul menjadi aliran barang, modal, dan lapangan kerja yang betul-betul tampak dan dirasakan bagi rakyat. (ANTARA)

0 Komentar