Pengendalian emosi, lanjutnya, menjadi hal yang tidak kalah penting dalam pertandingan. Kelelahan fisik, ketatnya persaingan, hingga situasi yang terjadi di lapangan tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Saya harapkan anak-anakku yang masih muda harus bisa mengendalikan hawa nafsu dan emosi. Secapek apa pun, ingatlah bahwa lawanmu itu adalah teman, lawanmu itu adalah saudaramu. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pesannya.
Ngatiyana menegaskan, lawan dalam pertandingan sepak bola bukanlah musuh dalam kehidupan sehari-hari. Setiap pemain diharapkan mampu menerima hasil pertandingan dengan dewasa, menghormati keputusan di lapangan, dan tetap menjaga hubungan baik meskipun timnya belum berhasil meraih kemenangan.
Baca Juga:Sepak Bola Cimahi Terancam Stagnan Tanpa Sarpras, Ini Kata Askot PSSI dan PemkotPengukuhan Plt Ketua Harian Askot PSSI Cimahi Jadi Momentum Kebangkitan Sepak Bola Daerah
Menurutnya, keberhasilan Asih Putera Festival Orthea tidak semata-mata diukur dari jumlah gol atau siapa yang keluar sebagai juara. Kemampuan menjaga ketertiban, menghargai sesama, dan menunjukkan kedewasaan dalam berkompetisi juga menjadi bagian penting dari prestasi.
Dalam kesempatan tersebut, Ngatiyana turut memotivasi para pelajar Kota Cimahi agar mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia menyampaikan bahwa peluang untuk meraih masa depan tidak terbatas pada profesi sebagai aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI, maupun Polri. Generasi muda memiliki banyak pilihan untuk mengembangkan karier dan memperoleh penghasilan melalui kreativitas, inovasi, keterampilan, serta bakat yang dimiliki, termasuk di bidang olahraga.
Karena itu, para pelajar didorong untuk tidak hanya berfokus pada kemenangan turnamen, tetapi juga terus mengasah kemampuan diri dan memanfaatkan berbagai peluang untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Ngatiyana juga membagikan pengalamannya ketika berlatih sepak bola pada masa lalu. Saat itu, fasilitas olahraga masih terbatas dan lapangan yang memadai sulit ditemukan. Ia bahkan pernah berlatih di area persawahan atau kebun dengan menggunakan bola plastik.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan fasilitas tidak seharusnya memadamkan semangat untuk berlatih dan berprestasi. Proses berlatih dalam kondisi serba terbatas, menurutnya, turut membentuk mental, daya tahan, serta kemampuan menghadapi tantangan.
