Waspada Sesar Lembang, Kesiapsiagaan Gempa Ditanamkan Sejak SD

Ilustrasi: Siswa SD mengikuti edukasi dan simulasi mitigasi bencana gempa bumi yang diberikan petugas di lingk
Ilustrasi: Siswa SD mengikuti edukasi dan simulasi mitigasi bencana gempa bumi yang diberikan petugas di lingkungan sekolah. Dok AI
0 Komentar

“Edukasi penting dilakukan secara berkelanjutan, mengingat sebagian besar wilayah Jayagiri memiliki potensi terdampak gempa, sementara beberapa sekolah juga berada di kawasan yang memiliki kerawanan bencana longsor,” tandasnya.

Upaya membangun kesiapsiagaan juga dilakukan melalui Desa Tangguh Bencana (Destana). Skema tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun kapasitas masyarakat agar tidak hanya menerima informasi kebencanaan, tetapi juga mampu terlibat dalam penanganan ketika bencana terjadi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD KBB, Dedi Supriadi mengatakan, dalam dokumen rencana kontingensi kebencanaan KBB, sosialisasi dilakukan kepada sejumlah warga yang didelegasikan oleh setiap desa.

Baca Juga:inDrive Edukasi Keselamatan Berkendara bagi Mahasiswa Baru di BandungKeandalan Listrik Dinilai Jadi Penopang Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Mereka kemudian diharapkan menjadi kepanjangan tangan BPBD untuk menyampaikan pengetahuan kebencanaan kepada masyarakat.

“Kemudian kita juga kan membentuk Destana, di dalamnya ada relawan, ibu-ibu PKK, pemerintah desa, TNI dan Polri, semua berperan untuk mengedukasi masyarakat terutama lansia dan anak-anak soal Sesar Lembang ini. Bagaimana dan ke mana mereka harus menyelamatkan diri,” kata Dedi, beberapa waktu lalu.

Kesiapsiagaan tersebut menjadi penting karena sejumlah wilayah KBB memiliki pengalaman langsung merasakan dampak aktivitas Sesar Lembang.

Pada 2011, gempa berkekuatan magnitudo 3,3 mengguncang kawasan Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua. Gempa tersebut menyebabkan 113 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari delapan rumah rusak berat dan 105 rumah rusak ringan.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut menjadi pengalaman penting bagi warga Kampung Muril yang sebagian besar tinggal di kawasan perbukitan dan lereng terjal.

Warga Kampung Muril, Yetti mengatakan, pengalaman tersebut masih menyisakan trauma bagi sebagian masyarakat. Terlebih ketika aktivitas Sesar Lembang kembali ramai diperbincangkan setelah sejumlah gempa kecil terjadi pada 2025.

“Kalau untuk masyarakat di sini mungkin masih ada trauma, ada ketakutan lagi pas ramai dibicarakan lagi. Kelihatannya memang biasa-biasa saja, mungkin karena sudah pernah mengalami jadi pembelajaran,” kata Yetti saat ditemui Koran Gala beberapa waktu lalu.

Baca Juga:Pasar Induk Padakembang Masuk Radar Investor, Proposal Tasikmalaya Raih Nilai Tertinggi WJIC 2026Puan: Siang Ini, Suyudi Ario Seto akan Dilantik Jadi Kapolri 

Riwayat aktivitas gempa pada 2025 juga menjadi perhatian warga. Beberapa gempa yang tercatat di wilayah Bandung Raya di antaranya bermagnitudo 2,7 pada 29 Juni di Kota Cimahi, magnitudo 1,8 pada 24 Juli, magnitudo 2,1 pada 28 Juli, magnitudo 1,9 pada 14 Agustus di Kabupaten Bandung, magnitudo 1,8 pada 15 Agustus, serta magnitudo 2,3 pada 19 Agustus 2025.

0 Komentar