Yetti mengatakan, pengalaman gempa 2011 membuat warga memiliki pemahaman tersendiri terhadap karakter guncangan yang dirasakan di wilayah mereka.
“Kalau gempa kecil enggak berasa (kejadian gempa 2011), beda dengan tahun 2025. Biasanya kan gempa itu goyang ke samping, tapi kalau di sini, si tanah itu kayak ke bawah, seperti anjlok tanahnya,” kata Yetti.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong warga Kampung Muril memperkuat kesiapsiagaan di lingkungan mereka. Yetti yang dipilih sebagai koordinator penanggulangan bencana gempa Sesar Lembang di kampungnya mengaku telah menyiapkan langkah mitigasi apabila sewaktu-waktu gempa kembali terjadi.
Baca Juga:inDrive Edukasi Keselamatan Berkendara bagi Mahasiswa Baru di BandungKeandalan Listrik Dinilai Jadi Penopang Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
“Minimal kita sudah paham untuk memitigasi diri sendiri agar tak jadi korban saat bencana terjadi. Harus lari ke mana, titik kumpul di mana, tidak panik,” ungkap Yetti.
Saat ini, penanda petunjuk arah jalur evakuasi telah terpasang di sejumlah sudut Kampung Muril. Marka tersebut menjadi bagian penting untuk mengarahkan warga menuju titik kumpul apabila terjadi guncangan.
Selain itu, sosialisasi kebencanaan juga beberapa kali dilakukan oleh pihak luar, termasuk mahasiswa dan relawan.
“Sudah ada penanda jalur evakuasi, alhamdulillah. Dari mahasiswa juga yang datang ke sini untuk sosialisasi tentang kebencanaan lumayan banyak. Cuma mungkin kita ingin ditingkatkan lagi ya mitigasi ke warganya, supaya bukan takut tapi waspada,” kata Yetti.
Gambaran mengenai potensi dampak Sesar Lembang juga tercantum dalam dokumen rencana kontingensi kebencanaan KBB.
Dalam dokumen tersebut, asumsi penduduk yang terdampak akibat aktivitas Sesar Lembang mencapai 1.768.353 jiwa yang tersebar di seluruh kecamatan se-KBB.
Kecamatan Lembang menjadi wilayah dengan perkiraan jumlah penduduk terdampak paling tinggi, yakni mencapai 211.159 jiwa.
Baca Juga:Pasar Induk Padakembang Masuk Radar Investor, Proposal Tasikmalaya Raih Nilai Tertinggi WJIC 2026Puan: Siang Ini, Suyudi Ario Seto akan Dilantik Jadi Kapolri
Dokumen yang sama memperkirakan sebanyak 8.843 orang tidak dapat dievakuasi setelah gempa terjadi. Dari jumlah tersebut, sekitar 36 jiwa diperkirakan meninggal dunia akibat tidak dapat dievakuasi.
Selain korban dan warga yang tidak dapat dievakuasi, skenario tersebut juga memperkirakan dampak besar terhadap masyarakat dan permukiman. Sebanyak 1.237.847 jiwa diperkirakan menjadi pengungsi, sementara 661.207 unit bangunan rumah atau permukiman berpotensi terdampak.
Besarnya potensi tersebut membuat edukasi mitigasi tidak hanya penting bagi masyarakat dewasa, tetapi juga perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Dengan pemahaman mengenai tindakan penyelamatan diri, jalur evakuasi, dan titik kumpul, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi potensi gempa tanpa diliputi kepanikan. (Wit)
