Ia menambahkan, kegiatan ini akan berlangsung selama 12 pekan mulai dari Oktober-Desember 2026 yang dikonversikan menjadi 10 SKS. Targetnya produksi sampah ke TPA Sarimukti berkurang minimal 20 persen. Namun, ia menegaskan, pendekatan yang digunakan bukan menugaskan mahasiswa turun membantu petugas kebersihan mengangkut sampah.
“Mahasiswa bukan membantu petugas sampah. Konsepnya mengubah budaya dan perilaku masyarakat terhadap sampah. Edukasi dilakukan sejak dari rumah tangga agar sampah dapat dikurangi dan dikelola sebelum keluar dari rumah sekaligus melakukan rekayasa sosial secara partisipatif bersama masyarakat,” lanjutnya.
Merespon hangat inisiasi tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman menyebutkan, pendidikan tidak cukup hanya membuat mahasiswa mengingat sebuah persoalan. Mahasiswa perlu memahami, mempraktikkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga pada akhirnya mampu menciptakan solusi.
Baca Juga:Tampilan Makin Berani, CRF1100L Africa Twin Siap Temani PetualanganGlobal Finance Nobatkan BRI sebagai Bank Terbaik di Dunia untuk UMKM Pertanian dan Pedesaan
“Anak-anak dipersiapkan bahwa tiga bulan ini merupakan pembelajaran yang substantif dan kontekstual,” kata Herman.
Di sisi lain, Pemprov Jawa Barat juga terus berupaya memperpanjang usia layanan TPA Sarimukti. Setelah melihat langsung kondisi Sarimukti, pemerintah daerah menargetkan usia TPA Sarimukti dapat diperpanjang hingga Desember 2029 dengan salah satu upayanya melalui Program GRADASI.
“Saat ini kondisi Sarimukti sudah penuh saat kami langsung datang ke lokasi. Kami menargetkan agar setidaknya minimal tiga bulan ke depan usia Sarimukti bisa lebih panjang,” ujar Herman.
Untuk memastikan program berjalan, pemerintah daerah juga telah mengikat komitmen para camat melalui perjanjian kinerja yang disertai mekanisme penghargaan dan konsekuensi.
Tak hanya sekadar komitmen, praktik baik yang telah berjalan pun turut disampaikan pada forum ini yang disampaikan Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Ir. A. Harits Nu’man. Prof. Harits menuturkan, pihaknya menerapkan pendekatan lintas keilmuan untuk melakukan rekayasa sosial di masyarakat.
“Fakultas Agama dilibatkan untuk memperkuat pendekatan berbasis nilai keagamaan, Fakultas Psikologi melihat perubahan perilaku masyarakat, sementara Fakultas Kedokteran berkontribusi dari sisi kesehatan. Unisba sendiri memproyeksikan transformasi 54 RW menuju smart and zero waste community,” tutur Harits.
Ia mengaku, respon yang diterima dari masyarakat sangat beragam. Maka dari itu, para mahasiswa dan dosen pembimbing yang turun ke lapangan dibekali berbagai pengetahuan sosial engineering agar lebih siap berkontribusi dan memahami permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Harits menegaskan, target program bukan memusnahkan sampah, melainkan menurunkan volume sampah yang dihasilkan masyarakat secara signifikan.
