Rasa “panas” yang dimaksud Marshall bukanlah keinginan untuk membalas komentar tersebut. Ia memilih menjadikannya sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuan melalui permainan di lapangan.
“Aku kalau dapat hate comment gitu makin semangat buat latihan. Makin semangat buat ngebuktiin kalau aku bisa,” katanya.
Bagi Marshall, komentar negatif tersebut justru menjadi bagian dari proses. Ia sadar pencapaiannya saat ini belum menjadi alasan untuk berhenti belajar.
Baca Juga:Green Forest Resort & Wedding Hadirkan Flash Sale September, Deluxe Room Mulai Rp700 Ribu99 Mahasiswa Tasikmalaya Dapat Beasiswa Baznas, Bupati: Kelak Jadi Pemberi Manfaat
“Lagian sampai sekarang aku juga belum jadi apa-apa. Masih banyak yang harus dibenahi dan ditambah. Masih harus banyak belajar intinya,” ujarnya.
Perjalanan Marshall di basket memang memperlihatkan perkembangan yang tidak selalu berjalan lurus. Pada tahun pertamanya tampil di DBL West Java, ia bahkan berhasil menyandang status MVP.
Namun, pada musim berikutnya, namanya tidak masuk dalam radar First and Second Team.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang membuat Marshall semakin memahami bahwa perjalanan seorang atlet tidak hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang bagaimana terus berkembang ketika hasil yang didapat tidak selalu sesuai harapan.
“Banyak yang aku korbankan untuk bisa di titik ini. Tapi, aku juga dapat banyak pelajaran dan hal baru. Basket ngajarin aku buat lebih disiplin. Basket ngajarin aku buat lebih sabar dan nikmatin proses,” katanya.
Kini, Marshall kembali berada di fase penting dalam perjalanannya. SMAN 2 Bandung berhasil melangkah ke Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Java-East. Di babak tersebut, Charets akan berhadapan dengan SMA Trimulia Bandung. Pertandingan ini tentu bukan tantangan mudah. Namun, Marshall dan rekan-rekannya memiliki kesempatan untuk kembali menunjukkan hasil dari proses panjang yang telah mereka jalani.
Dari sebuah bola yang memantul di samping kolam renang hingga menjadi salah satu tumpuan Charets di Bandung Arena, perjalanan Marshall Farez menjadi pengingat bahwa terkadang sebuah perjalanan besar memang bisa dimulai dari rasa penasaran yang sederhana.
