Bahkan, ada penonton yang baru bisa menyaksikan Mocca secara langsung setelah mengenal lagu-lagu mereka sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
“Ada juga yang nonton, ‘Saya akhirnya bisa nonton Mocca karena dulu saya waktu dengerin pertama masih TK. Ada juga yang begitu. Tapi luar biasa lah regenerasinya,” ujar Arina.
Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa perjalanan sebuah karya musik tidak selalu berhenti pada periode ketika lagu tersebut pertama kali populer.
Doel Sumbang: Musik Jangan Hanya Mengejar Popularitas
Baca Juga:AMazing Build Fest Hadir di Bandung, PT AMBPI Perkuat Komunikasi dan Edukasi PelangganTeras Suara Simbadda Hadir di Bandung, Saat Speaker Tak Sekadar Jadi Pelengkap Hiburan
Selain musisi yang lekat dengan generasi 2000-an, kehadiran Doel Sumbang sebagai special performance memberikan warna berbeda dalam Timeless Project Live Preanger Edition.
Musisi yang dikenal melalui karya-karya bernuansa Sunda itu menilai konsep Timeless Project menarik karena mampu mempertemukan banyak genre dalam satu acara.
“Yang paling menarik dari konsep Timeless ini adalah adanya upaya mengakomodir begitu banyak genre musik,” kata Doel Sumbang.
Dalam satu panggung, karakter musik Doel Sumbang dipertemukan dengan The Changcuters, The Panturas, Mocca, serta sejumlah musisi lainnya.
Menurutnya, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk kembali menikmati karya-karya lama yang dibuat dengan pendekatan berbeda.
“Karya-karya lama jauh lebih asyik karena lebih tulus dibuat, enggak pengen kaya, enggak pengen viral,” ujarnya.
Ia kemudian menyoroti pentingnya menempatkan musik sebagai karya kreatif, bukan semata-mata produk yang dibuat untuk mengejar popularitas.
Baca Juga:Fortune Indonesia 100 Tahun 2026 Apresiasi bank bjb, Inovasi Jadi Penggerak PertumbuhanRayakan Anniversary ke-17, IMHK Perkuat Semangat Kekeluargaan dan Solidaritas Bikers Honda Karawang
“Mari kita kembali ke budaya lama di mana bikin karya itu orientasinya bukan uang, tapi karya,” kata Doel Sumbang.
Pada akhirnya, Timeless Project Live Preanger Edition memperlihatkan bahwa nostalgia tidak selalu berarti kembali ke masa lalu.
Melalui musik, radio, karaoke, instalasi visual, hingga budaya populer era 2000-an, kenangan lama justru dipertemukan dengan kehidupan audiens hari ini.
Di tengah perubahan zaman dan munculnya berbagai tren musik baru, karya-karya yang pernah menjadi soundtrack kehidupan masih memiliki ruang untuk kembali didengarkan, dinikmati, sekaligus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Timeless Project sendiri merupakan platform event yang menggabungkan musik, perjalanan hidup, dan budaya populer dalam sebuah pengalaman bersama. Dengan target utama audiens usia 30-39 tahun, acara ini mencoba menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak, mengingat perjalanan yang telah dilalui, merayakannya, dan kemudian kembali melangkah dengan energi baru. (*)
