“Pernah satu kelas waktu kelas 10 SMA. Itu guru kita sulit buat bedain hahahaha. Habis itu, kita nggak pernah sekelas lagi,” ungkap Darren.
Meski sejak itu tidak lagi berada di kelas yang sama, keduanya tetap menjadi pasangan yang sulit dipisahkan ketika sudah berada di lapangan basket.
Bermain bersama saudara kandung justru membuat Darren merasa semakin nyaman. Menurutnya, kebersamaan sejak kecil ikut membantu membangun chemistry di antara mereka ketika bertanding.
Baca Juga:Dari Gugup Jadi Tambahan Tenaga, Orang Tua Jadi Mood Booster Nabil di DBLPanggung AQUA DBL Dance West Java-East Cara Anak Muda Merayakan Musik Indonesia
“Kalau bosan sih nggak ya. Punya saudara kandung satu tim dan main bareng itu justru makin seru. Chemistry kita jadi lebih dapat gitu,” ceritanya.
Ambisi tersebut langsung mendapat sinyal positif pada pertandingan pertama Trimulia musim ini. Tim putra Trimulia berhasil mengawali perjalanan dengan kemenangan telak 85-7 atas SMA Pasundan 1 Bandung.
Darrel dan Darren sama-sama memberikan kontribusi dua digit angka. Darrel menjadi pencetak poin terbanyak dengan 22 poin, sedangkan Darren menyumbangkan 12 poin.
Di antara keduanya, Darrel memang memiliki catatan poin lebih tinggi. Darren pun mengakui keunggulan sang saudara kembar dalam urusan basket. Namun, ia punya keunggulan lain di bidang akademik.
“Kalau di basket, Darrel memang lebih jago daripada aku. Aku mengakui itu. Tapi, kalau urusan akademik, aku lebih jago daripada dia,” terangnya.
Kemenangan tersebut menjadi modal awal bagi si kembar untuk mengejar target yang mereka bawa sejak awal musim. Mereka tidak hanya ingin mengantarkan Trimulia kembali ke partai puncak, tetapi juga ingin melanjutkan tradisi keluarga mereka di DBL. Bagi Darrel dan Darren, gelar juara bukan satu-satunya tujuan. Mereka juga ingin mendapatkan kesempatan tampil di DBL Camp.
Jika berhasil mewujudkannya, keduanya akan mengikuti jejak Natasha yang lebih dulu menjadi alumnus DBL Camp. Mereka juga berpeluang melanjutkan tradisi kakak beradik Trimulia lainnya yang pernah berangkat ke kamp, seperti Samantha Wong dan Edwin Wong. Keinginan tersebut membuat target si kembar semakin jelas: bukan hanya berjuang bersama sebagai saudara, tetapi juga menutup musim terakhir mereka dengan pencapaian terbaik.
