Dari sisi distribusi, OJK mencatat pembiayaan industri pindar masih didominasi Pulau Jawa dengan porsi 68,94 persen dari total outstanding per Juli 2026. Sementara pembiayaan industri pindar ke luar Jawa tumbuh 29,06 persen (yoy) menjadi Rp32,81 triliun.
Dari sisi profitabilitas, catat OJK, laba industri pindar tumbuh 18,20 persen (yoy) menjadi Rp1,36 triliun per Juli 2026. Menurut Agusman, peluang pertumbuhan laba hingga akhir tahun masih terbuka, didukung pertumbuhan outstanding pembiayaan dan terjaganya kualitas portofolio.
Terkait dengan penurunan jumlah pindar menjadi 94 penyelenggara, Agusman menyampaikan bahwa hal ini merupakan bagian dari dinamika penguatan industri pindar yang dipengaruhi antara lain oleh kemampuan pemenuhan ketentuan permodalan dan keberlanjutan usaha.
Baca Juga:Purbaya Kena Reshuffle, Prabowo Titip APBN Harus Dukung Program Prioritas ke Menkeu BaruPendaftaran Binlat Polri 2026 Dibuka, Polres Tasikmalaya: Jangan Percaya Calo!
“Ke depan, persaingan antara lain mengarah pada penyelenggara pindar dengan fundamental usaha yang kuat, manajemen risiko dan tata kelola yang baik, serta kemampuan beradaptasi, guna menjaga pertumbuhan industri yang sehat dan berkelanjutan,” kata Agusman.
